Ruangkala

Motiontale
Chapter #6

4. Anak Ayam

Malam sudah larut. Hiruk pikuk jalanan kota semakin berkurang, meski belum bisa dibilang sepi. Lampu-lampu bernuansa oranye di pinggir jalan menyinari Pasar Kembang yang masih ramai pedagang dan pembeli.

Sebuah motor sport berwarna hitam melaju pelan mengitari pasar, menuju area paling dalam yang lebih gelap dan sepi—cukup tersembunyi bagi siapa pun untuk melakukan aktivitas tanpa diketahui.

Suara deru mesin perlahan mereda, lalu Anom memarkir motornya tepat di seberang gang sempit dan kumuh. Sorot kedua matanya yang dingin memperhatikan lingkungan sekitar, memastikan bahwa tidak ada yang membuntuti dirinya.

Tanpa ragu, Anom melangkah masuk ke gang sempit itu yang mengarah ke sebuah gudang tua.

Di sepanjang gang, lima pria berwajah keras terlihat berjajar mengeluarkan aura mengancam.

Seorang di antaranya bertubuh kekar dengan lengan dipenuhi tato sedang merokok, ditemani sebotol minuman keras tanpa merk bersama dengan temannya yang bermata juling.

Di depan mereka berdua, seorang berjaket kulit sedang mengasah pisau lipat, sementara dua lain—satu berambut gondrong dan satu lagi bergigi tonggos—duduk di lincak dan mengobrol dengan suara rendah sambil bermain gaple.

Ketika suara langkah Anom semakin terdengar, seluruh aktivitas di gang itu langsung terjeda. Perhatian mereka tertuju pada pemuda yang baru saja tiba.

Si tubuh kekar mendekati Anom, menatap dengan penuh curiga.

"Mau apa?" tanyanya, ketus.

Anom menatapnya datar.

"Aku mau bicara dengan Raga."

Nama yang Anom sebut bak ranjau yang baru saja diinjak. Beberapa orang lainnya langsung beranjak bangun dan mendekati Anom. Si mata juling melangkah maju dengan senyum sinis, tampak ingin menunjukkan siapa yang berkuasa di sini.

"Raga nggak ada waktu buat bocah kayak kamu. Pulang sana sebelum aku buat mukamu jadi samsak." Ancamnya, meremehkan.

Anom bergeming.

Dia tahu karakteristik orang-orang ini—otak mereka ada di otot. Mereka tidak akan ragu untuk menggunakan kekerasan, terutama jika berkelompok.

Tapi hal itu tidak menciutkan nyali Anom sedikit pun.

"Panggil Raga sekarang, atau kau yang jadi samsak." Anom mengancam balik.

Tawa sinis terdengar dari beberapa pria di sekelilingnya.

Tanpa ragu si badan kekar maju. Tinjunya terangkat, siap untuk menghajar wajah Anom.

Tapi, Anom bergerak lebih cepat.

Sebuah pukulan lurus menghantam perut si kekar—tepat, dalam, tanpa ayunan berlebihan. Ketika lawannya berusaha mengambil napas yang terputus seketika, kaki Anom menyapu tumpuannya. Dengan satu gerakan bersih, tubuh si kekar terhempas ke lantai dengan bunyi keras yang mematikan tawa di sekeliling mereka.

Kerumunan membeku.

Tak ada yang menyangka. Di balik penampilan bersih yang terlihat seperti 'anak orang kaya manja', tubuh Anom bergerak dengan presisi orang yang terlatih.

Anom berbalik.

Pandangannya mengarah pada para preman yang mulai mengepalkan tangan, bersiap untuk mengeroyoknya.

Si jaket kulit mengeluarkan bilah pisau yang semula terlipat di tangan kanannya, kemudian mengayunkannya ke perut Anom. Dengan cepat Anom memegang lengan kanan si jaket kulit, memelintirnya dengan kekuatan penuh, membuat si jaket kulit jatuh berlutut dengan teriakan kesakitan.

Teriakannya makin menjadi saat Anom menjejakkan kaki di ketiaknya, menarik paksa otot-otot lengan kanannya.

"Arrghh!! Am-ampun, Mas!! S-sakit!!" Si jaket kulit meringis, menahan rasa sakit luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Dengan tatapan dingin, sambil memainkan pisau lipat yang kini berada di tangannya, Anom mengarahkan pandangannya ke tiga preman lain yang mulai panik.

"Kalian yang pilih. Kupatahkan tangannya, atau kusobek otot lengannya sampai putus?"

Lihat selengkapnya