Ruangkala

Motiontale
Chapter #7

5. Rumah

Bulan terlihat jauh lebih besar dari biasanya. Di bawah cahayanya yang merona dalam nuansa kemerahan, Anom melaju dengan kecepatan tinggi di atas motor sportnya.

Hembusan angin malam yang dingin menembus jaketnya, namun tidak mengganggu fokusnya saat ia melewati deretan rumah mewah dengan pekarangan yang teratur di sepanjang komplek perumahan elit.

Sebelum mencapai pintu gerbang besar yang menjulang kokoh di depan rumahnya, Anom melesat melewati sebuah sensor tersembunyi. Di saat itu pula pintu gerbang terbuka dengan sendirinya.

"Selamat datang, Tuan Anom," sambut suara AAREN mengiringi Anom yang langsung menuju bangunan besar nan megah di tengah halaman.

Usai memarkir motor dan melepas helm dari kepalanya, Anom melangkah memasuki bilik yang menyerupai lift.

Pintu bilik menutup secara otomatis, disusul dengan semburan gas desinfektan yang memenuhi seluruh ruangan kecil itu dalam sekejap. Kabut tipis menyelimuti tubuh Anom, membersihkan setiap bakteri dan virus yang menempel pada dirinya.

Meski menjengkelkan, Anom tak bisa menghindar karena seperti itulah AAREN di rumahnya diprogram—untuk menjaga segala hal yang masuk ke rumah dalam kondisi steril.

"Selamat malam, Tuan Anom. Emosi Anda terpantau sangat buruk. Ada yang bisa saya bantu?"

"Diam," balas Anom singkat menanggapi AAREN sambil keluar dari bilik.

"Dimengerti."

Begitu memasuki ruang utama, langkah kaki yang diiringi suara detik jam antik yang berdiri di sudut ruangan terdengar nyaring menggema ke seluruh sudut rumah. Kontras dengan citranya yang lekat dengan teknologi, rumah Anom dipenuhi dengan banyak barang antik—koleksi ayahnya.

Dengan kondisi bangunan yang terlampau besar untuk dihuni hanya oleh dua orang, membuatnya terasa seperti museum daripada tempat tinggal. Ditambah segala fasilitas yang serba terotomatisasi dengan sensor suara, membuat tempat ini semakin tak bernyawa.

Hanya ada satu hal yang membuat Anom masih mau menganggapnya sebagai rumah.

"Wooff!!" Suara khas dari Labu—anjing shiba inu peliharaan Anom—bergema ke seluruh ruangan.

Langkah kaki terdengar dari kejauhan, makin lama semakin cepat.

Anom menoleh, senyum tipis yang jarang muncul kini menghiasi wajahnya saat melihat sosok kecil itu berlari ke arahnya.

"Labu!" seru Anom dengan penuh kegembiraan, seolah seluruh beban hidupnya tiba-tiba sirna.

Labu melompat ke arah Anom dan langsung menjilati wajahnya, disambut tawa kecil dan tangan Anom yang membelai lembut bulu Labu.

"Ahaha, santai boy, santai... Aku udah beli makanan kesukaanmu kok," kata Anom sambil menepuk lembut pipi anjing kesayangannya.

Labu adalah satu dari dua yang mendapatkan label 'teman' dari Anom—selain Nusa tentunya. Labu hadir ke dalam hidup Anom satu tahun sebelum ia mengenal Nusa.

Suatu sore, saat Anom mencoba kabur dari rumah, hujan deras tiba-tiba turun. Anom bergegas untuk berteduh, dan di saat itulah ia menemukan seekor anak anjing shiba inu kecil, terjebak dan menggigil di balik semak-semak di pinggir jalan.

Mata anjing itu penuh ketakutan dan kesepian, seolah beresonansi dengan perasaan Anom saat itu.

Tanpa ragu, Anom mengangkatnya dan memutuskan untuk membawanya pulang. Ia pun menamainya Labu.

Selama seminggu penuh, Anom merawat Labu di dalam kamarnya, merahasiakan keberadaannya dari orang rumah.

Ketika akhirnya ayahnya tahu, Anom menyodorkan hasil ujian yang sempurna, membuktikan bahwa kehadiran Labu tidak mengganggu prestasi akademiknya.

Meski berat hati, akhirnya ayahnya mengizinkan Labu tinggal.

Sejak saat itu, Labu menjadi satu-satunya teman yang selalu berada di sisi Anom.

"Emosi Anda terpantau baik. Apakah Anda ingin saya—"

"Diam."

"Dimengerti."

Entah berapa kali Anom harus mengucapkan hal yang sama tiap kali AAREN berbicara.

AAREN memang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan emosi orang di sekitarnya. Setiap kali ia mendeteksi adanya perubahan emosi yang ekstrim, ia akan segera menawarkan sesuatu untuk menjaga agar emosi yang bersangkutan kembali positif.

Jika bukan karena Labu, Anom akan lebih memilih tidur di sembarang hotel kapsul daripada harus pulang hanya untuk menanggapi AAREN.

Belum lama Labu bermain dengan Anom, tiba-tiba terdengar alunan musik klasik—Rachmaninoff Piano Concerto No.2, berasal dari jam antik yang menunjukkan tepat jam 12 malam.

Labu refleks menggeram sambil menjauh dari Anom.

Anom tahu betul tanda apa itu. Senyum di wajahnya langsung lenyap, begitu pula dengan Labu yang kini berdiri waspada di sisinya.

Dari arah tangga terdengar suara langkah kaki turun.

Anom menegakkan tubuhnya, melihat sosok tinggi yang perlahan mendekat.

Adri Satriya, ayahnya, muncul dengan setelan jas komplit, tampak seperti hendak pergi.

"Baru pulang? Gimana tugas akhirmu?" tanya Adri.

"Bukan urusanmu," jawab Anom ketus.

"Kalau kesulitan dan butuh bantuan—"

"Nggak butuh."

Adri menghela napas sambil memijat keningnya.

"Sudah sebulan sejak terakhir kali aku melihatmu."

"Anda yang tidak pernah pulang."

"Kita perlu bicara."

Lihat selengkapnya