Langit merah membentang di atas medan perang, mengguratkan kemarahan semesta yang tak terucapkan.
Gema benturan senjata berpadu dengan pekikan para prajurit, menciptakan simfoni kehancuran yang menggema hingga ke cakrawala.
Ksatria di atas kuda menebas musuh tanpa ragu.
Raksasa berlari dengan gada terayun tinggi.
Bidadari berkelebat di udara, melepaskan anak panah yang berkilauan.
Jin membentuk pusaran elemen, mengendalikan angin, api, dan petir dalam harmoni yang mematikan.
Bola-bola api melesat liar, melumat apa saja yang menghalangi jalannya.
Ledakan demi ledakan mengguncang tanah yang becek karena genangan darah, membuat udara dipenuhi debu, bau hangus, dan anyir yang menyesakkan.
Semua mata, semua serangan, tertuju pada satu kelompok—mereka yang mengenakan jubah merah.
Di antara hiruk-pikuk itu, sepasang mata mengamati dalam diam.
Seekor burung hantu menembus kepulan asap dan badai panas, melayang tinggi di antara reruntuhan dunia. Matanya merekam segalanya—jeritan, kehancuran, dan nyala terakhir dari mereka yang pernah hidup.
Burung itu melesat jauh meninggalkan medan perang yang nyaris tak berbentuk, melewati hutan yang terbakar, gunung yang terbelah, hingga tiba di sebuah bukit sunyi—satu-satunya tempat yang tak terjamah oleh kekacauan.
Di puncaknya, berdiri sebuah bangunan megah dengan empat pilar raksasa membentuk kubah, menjulang tinggi menantang langit.