Ruangkala

Motiontale
Chapter #9

6. Ruangkala

Anom membuka matanya.

Udara beku menerpa kulitnya, menembus jaket tebal yang ia kenakan.

Tubuhnya refleks menggigil. Matanya mengerjap, mencoba menyesuaikan pandangan.

Jauh di atas kepalanya, melayang sebuah lingkaran sihir berbasis heptagram, memancarkan cahaya keemasan yang berpendar lembut.

Struktur magis itu ditopang oleh empat pilar raksasa yang menjulang tinggi, membentuk kubah besar nan megah di sekelilingnya, seakan ia terperangkap di dalam kerangka jam pasir yang tak berujung.

Tempat ini terasa asing namun anehnya juga akrab, sulit dijelaskan.

"Selamat datang, Sang Terpilih."

Sebuah suara lembut memecah kesunyian.

Anom terkesiap, langsung terduduk dari posisi tidurnya.

"Hah?!" teriak Anom.

Di hadapannya, seorang perempuan berdiri, tersenyum.

Rambutnya yang lurus, hitam legam, dan panjang tergerai anggun. Matanya berwarna biru safir berkilauan seperti bintang di malam pekat.

Gaun bernuansa putih-biru beraksen emas membuat paras cantiknya semakin menonjol. Aura elegan nan anggun terpancar, bak bidadari dari dongeng klasik.

Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anom.

Ini bukan pertemuan pertama. Ia yakin pernah melihat perempuan itu sebelumnya, entah di mana.

"Saya Taya, penjaga Ruangkala," kata perempuan itu sembari membungkukkan badannya—memperkenalkan diri.

"Hah?!"

Anom masih linglung. Pikirannya berusaha mencerna situasi yang aneh ini.

Pandangannya beralih, menyapu sekeliling.

Baru disadarinya, ini bukan rumahnya.

Bukan pula dunia yang ia kenal.

Hanya ruang luas tanpa batas dengan lantai dan langit-langit yang serba putih.

Tak ada ujung, tak ada horizon.

Hanya kehampaan yang terasa begitu sunyi.

Namun, perhatiannya segera tertuju pada sebuah buku besar yang melayang di atas meja batu berbentuk lingkaran—menyerupai jam pasir. Sampulnya dihiasi lingkaran sihir yang bercahaya samar.

Buku itu... bukunya Nusa, kan?

"Namanya Kitab Plawangan," ucap Taya.

Anom tersentak. Perempuan itu menjawab pertanyaan yang bahkan belum ia lontarkan.

"Ia adalah gerbang yang menghubungkan Ruangkala dengan Martyapada, dunia tempat Tuan berasal."

Kening Anom berkerut.

Cara bicara Taya yang formal, baku, dan terukur membuatnya semakin merasa aneh. Tapi, yang lebih mengganggu adalah istilah-istilah yang ia sebutkan.

Ruangkala? Martyapada? Sang Terpilih?

Alih-alih menjawab, perempuan ini malah semakin membuat Anom bingung.

Apa ini mimpi buruk? Halusinasi? Atau... VR?

Spekulasi terakhir adalah yang paling masuk akal, meski tetap konyol.

Semua ini masih tampak terlalu nyata untuk ukuran Virtual Reality. Namun, jika ada seseorang yang cukup gila untuk menciptakan simulasi seperti ini, orang itu pasti Nusa.

Bukan tidak mungkin kalau ini semua adalah proyek iseng si maniak fantasi itu.

Taya tersenyum tipis, seolah mengetahui gejolak pikiran Anom.

"Ini bukan mimpi ataupun VR, Tuan Anom," lagi, perempuan itu menjawab pertanyaan yang hanya ada di kepala Anom.

Kali ini Anom yakin, ini bukan kebetulan.

"Ini adalah Ruangkala—dimensi yang berada di antara dua dunia: Martyapada, dunia tempat manusia hidup, dan Purana, dunia bayangan di mana makhluk magis tinggal."

Dua dunia? Makhluk magis? Apaan sih, nggak jelas!

Anom menatap Taya—skeptis.

"Aku nggak ada waktu buat semua omong kosong ini. Aku harus pulang! Ada hal lain yang lebih penting."

"Jika hal yang Tuan maksud adalah menghancurkan karir ayah Tuan, tenang saja. Selama kedua Kitab Plawangan terbuka, aliran waktu di Martyapada akan terhenti. Saat Tuan kembali nanti, Tuan tidak akan kehilangan waktu sedetik pun."

Kata-kata Taya menghantam Anom seperti petir di siang bolong. Ia langsung menatap Taya tajam.

Dari mana perempuan ini tahu?

Itu adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Nusa.

"Saya tahu lebih dari apa yang bisa Tuan bayangkan."

Taya mengangkat tangannya perlahan.

Udara di sekitar mereka berubah.

Lembaran Kitab Plawangan bergerak dengan sendirinya.

Kilauan cahaya keluar dari dalam kitab, membentuk sebuah proyeksi di udara—sosok yang sangat dikenal Anom.

"Ibu?!"

Anom terdiam.

Dunia di sekelilingnya terasa menghilang.

Lihat selengkapnya