Ruangkala

Motiontale
Chapter #10

0.2

Cahaya senja yang redup menyusup di antara dahan-dahan pepohonan, memancarkan semburat jingga yang perlahan berubah kelabu.

Suara angin sesekali menyusup di antara dedaunan, disertai cicitan burung yang bersiap menuju sarang mereka.

Di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun, Laras, seorang gadis kecil berambut pendek duduk di depan sebuah kijing makam sederhana yang dibuat dari batu.

Matanya sembab. Wajahnya dipenuhi kesedihan yang dalam, sementara suara isak tangisnya terdengar samar.

Dari balik pepohonan, Wulan, seorang gadis berambut panjang datang menghampiri. Langkahnya mantap, seolah tak terpengaruh oleh duka yang menyelimuti tempat itu.

Begitu sampai di dekat Laras, Wulan berdiri di sampingnya, bercekak pinggang.

"Mau sampai kapan kamu di sini?"

Laras masih membenamkan wajahnya di antara kedua pahanya, tak bereaksi. Hanya isak tangis yang terdengar lirih dari bibirnya.

Wulan mendengus pelan, mencoba menahan rasa gemas sekaligus iba melihat sahabatnya yang tiada beda dengan kijing yang sedang ia ratapi—diam tak bergerak.

"Jangan nangis lama-lama, Laras. Kamu nggak mau kan ibumu sedih di langit sana melihat kamu menangis?"

Laras perlahan mendongak, memperlihatkan wajahnya yang merah dan penuh air mata. Matanya bertemu dengan tatapan Wulan, sejenak terhenti, seakan sedang mencari sepotong harapan di balik kata-kata yang baru saja ia dengar.

"... Ibu masih bisa lihat aku?"

Wulan sempat ragu untuk menjawab, namun kemudian ia mengangguk mantap dengan senyum lembut yang menggantung di bibirnya.

Lihat selengkapnya