Langit biru mulai berubah dihiasi semburat jingga. Terik matahari meredup perlahan menjadi kelabu.
Desiran angin menggerakkan dedaunan, disertai riuh cicitan burung-burung yang bersiap menuju sarang mereka.
Di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun, Laras, seorang gadis kecil berambut hitam pendek duduk di depan sebuah kijing makam sederhana yang terbuat dari batu.
Matanya bengkak, dengan pipi lengket bekas air mata yang mulai mengering, namun masih terisak menangis lirih sekali.
Dari balik pepohonan itu, Wulan, seorang gadis berambut panjang berwarna coklat kemerahan datang menghampiri. Langkahnya mantap, tak terpengaruh oleh duka yang menyelimuti tempat itu.
Wulan berdiri di sampingnya, berkecak pinggang.
"Mau sampai kapan kamu di sini?"
Laras masih membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya, tanpa menggubrisnya.
Wulan mendengus pelan, mencoba menahan rasa gemas sekaligus iba melihat sahabatnya yang tiada beda dengan kijing yang sedang ia ratapi—diam tak bergerak.
"Jangan nangis lama-lama, Laras. Kamu nggak mau kan ibumu sedih di langit sana melihat kamu begini?"
Laras perlahan mendongak, memperlihatkan wajahnya yang pucat dan penuh air mata. Matanya bertemu dengan tatapan Wulan, sejenak terhenti, seakan sedang mencari sepotong harapan di balik kata-kata yang baru saja ia dengar.
"... Ibu masih bisa lihat aku?"
Wulan sempat ragu untuk menjawab, namun kemudian ia mengangguk mantap dengan senyum lembut yang menggantung di bibirnya.
"Iya, ibuku pernah bilang begitu."
Pandangan Laras kembali tertunduk, menatap kosong ke kijing ibunya.
"Kenapa harus ibuku? Kenapa nggak ibumu yang—"
"Laras! Kamu ini ngomong apa sih?" Wulan memotong sebelum Laras menyelesaikan kalimatnya.
Laras sontak terdiam. Tenggorokannya mendadak kering, seolah ikut terkejut dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.
Ini bukan pertama kalinya, dan Wulan paham betul akan hal itu.
Biasanya, Wulan akan langsung melayangkan cubitan kecil ke pipi Laras, sekedar untuk membuyarkan pikiran buruknya. Namun kali ini, Wulan mengulurkan tangannya dengan penuh kelembutan.
"Kalau ada yang berbuat jahat padamu, akan aku lawan, meski itu ibuku sendiri."
Sejenak, keheningan di antara mereka terasa seperti waktu berhenti.
Perkataan itu menembus dinginnya hati Laras yang sedang beku.
Laras menatap telapak tangan kecil yang terulur menawarkan sebuah kehangatan itu.
Ada keinginan untuk percaya, untuk bangkit dari keterpurukan yang tengah melandanya.
Namun, ia ragu. Bukan pada pemilik tangan itu, tapi pada dirinya sendiri.
Wulan tersenyum tipis.
"Jangan sedih lagi, Laras. Aku janji akan selalu ada buat kamu."
Mata Laras kembali berkaca-kaca. Kali ini bukan karena sedih, melainkan karena perasaan haru yang begitu hangat.
Dengan berpegang pada janji itu, Laras ingin percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Perlahan, Laras meraih tangan itu.
Ia berdiri dengan bantuan Wulan, mengusap sisa air mata di pipinya, mencoba tersenyum meski hatinya masih sangat terluka.
"Terima kasih, Wulan."
Wulan menarik tangan Laras, mengajaknya pergi dari kijing itu, meninggalkan bayang-bayang senja di belakang mereka.
Sebelum mereka melangkah terlalu jauh, Wulan melirik ke arah kijing.
Ia sadar.
Ia telah melakukan kesalahan besar.
***
Di tengah hutan lebat yang dipenuhi dengan pepohonan tinggi menjulang, seberkas pilar cahaya tiba-tiba muncul dari langit. Cahayanya menerangi daratan, mengalahkan sinar mentari pagi yang sedang cerah-cerahnya.
Butiran pasir berwarna emas beterbangan mengelilingi pilar cahaya, seolah menari mengikuti ritme yang tak kasatmata.
Di dalamnya, kumpulan pasir itu memadat perlahan, membentuk wujud seorang pemuda.
"... Uaaaghhh"
Anom keluar dari cahaya dengan sebuah erangan tertahan keluar dari bibirnya. Tubuhnya jatuh berlutut, kedua tangannya menekan tanah lembap berumput untuk menahan keseimbangan.
Kepalanya terasa berat.
Rasanya seperti baru saja terbangun dari mimpi—tentang dua gadis kecil yang tidak pernah ia kenal. Kijing di bawah langit senja, suara isak tangis, janji yang terucap, semuanya masih terpampang jelas di benaknya.
Entah kenapa hal itu membuat dadanya sesak, bukan karena kehabisan napas, melainkan karena sesuatu yang terlalu akrab.
Kesedihan, kekecewaan, dan kehilangan yang mendalam merasuk ke dalam jiwanya.
Perasaan yang mengingatkan pada janji ibunya yang tak pernah terwujud.
Anom menatap lurus ke tanah, mencoba merasionalisasikan apa yang sedang ia alami. Tak ada satu pun teori dalam kepalanya yang bisa memberikan penjelasan logis tentang yang ia rasakan.
Tiba-tiba suara gemerisik memecah pikirannya.
Anom menoleh ke arah suara. Beberapa tupai muncul dari arah yang berbeda, lalu segera pergi setelah kontak mata dengan Anom. Anom yang kembali waspada, pandangannya mulai menyapu area sekitar.