Ruko Dua Pintu

anjel
Chapter #1

Prolog

Tiga jam lalu ayam berkokok, namun makhluk yang hanya mengenakan boxer motif bunga daisy itu merespon dengan menepuk-nepuk kasur tiga kali, matanya masih terpejam, sebagai isyarat meminta ayam tetangga itu diam.

Dua jam kemudian, seberkas cahaya matahari pagi mencoba peruntungan menyusup lewat celah ventilasi, tapi si kebo itu alih-alih terbangun, malah memutar badan memunggungi jendela. Satu kakinya semakin nyaman menekuk di atas guling yang dipeluknya erat.

Nah, kebo jomblo itu kalau sudah bertemu kubangan kasur memang begitu! Paten hukumnya ketika pria itu sudah jatuh tertidur, alam semesta yang berkonspirasi sekalipun tak akan bisa membangunkannya. Dan jika kalian ingin tahu, namanya Joliandra — Joe si kebo jomblo.

Lima belas menit kemudian, suara Bruno Mars dari ponsel di atas nakas ikut merusuh paginya. Rowan yang menelepon, salah satu anggota geng arisannya itu tahu kebiasaan Joe yang suka tidur kebablasan.

Tiga kali nada yang sama terulang dari ponselnya, tiga kali pula Joe membalasnya dengan suara dengkuran halus.

Umang-umang di pasir pantai di belakang ruko pun tahu tak ada yang bisa membangunkan si kebo jomblo dengan mudah. Tak ada, sampai semenit yang lalu terdengar suara gaduh yang berasal dari ruko sebelah.

Tak ada yang menyangka, kebo itu tiba-tiba tersentak dari tidurnya. Matanya membulat sempurna. Ia buru-buru menyeka iler, mengusap wajah, menarik napas dalam-dalam, lalu suara teriakan bernada berat menggelegar dalam ruangan empat kali delapan itu.

"ANJIIIRR!!!!! BERISIK BANGET BABI!!"

Satu lagi sumber polusi di kota Bengkulu adalah umpatan dari mulut yang belum sikat gigi itu.

Tak ada yang boleh membangunkan tidurnya. Jika ada, terimalah amukan si kebo.

"Udah jam sembilan, Kebo! Rezeki Lu udah keburu dipatok ayam!!!" Terdengar sahutan seorang wanita yang tak kalah melengking dari balik dinding ruko sebelah.

Joe membuka matanya, menguap lebar sekali lalu, lalu memukul dinding dengan malas. "Sorry nih, pangeran biasa tidur sampe jam sebelas!"

"What?! Pangeran kodok?"

Dinding tebal yang memisahkan kedua ruko itu sudah biasa menjadi saksi bisu umpatan-umpatan para penghuninya.

Suara derat kasar terdengar lagi, sepertinya penghuni ruko sebelah sedang berberes-beres dan menggeser beberapa lemari.

Dalam satu tarikan, Joe mengangkat tubuh dan berjalan cepat membuka pintu di dekat jendela, melongokkan wajah ke balkon sebelah yang hanya dibatasi pagar besi setinggi dada.

Lihat selengkapnya