Jakarta tahun 2026 tidak pernah ramah pada dompet mahasiswa tingkat akhir. Bagi Ghea, mencari tempat tinggal di dekat pusat kota dengan harga di bawah dua juta rupiah per bulan itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami—jarumnya patah pula.
Itulah sebabnya, ketika dia berdiri di depan gerbang kayu jati yang kokoh dengan papan kuningan bertuliskan "Griya Damai", Ghea merasa seperti sedang melihat gerbang surga. Bangunannya bergaya kolonial modern, dicat putih bersih, dengan tanaman rambat yang tertata rapi. Tidak ada jemuran bergantungan di pagar atau bau got yang menyengat. Tempat ini terlalu sempurna untuk ukuran kantongnya.
"Kamu sudah baca iklan saya sampai habis, kan?"
Suara bariton itu membuyarkan lamunan Ghea. Di depannya, duduk seorang pria paruh baya yang tampak lebih mirip direktur bank daripada seorang bapak kos. Pak Baskoro. Pria itu mengenakan turtleneck hitam meski cuaca Jakarta sedang gerah-gerahnya, dengan kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidung mancungnya. Matanya tajam, memindai Ghea dari ujung sepatu ketsnya yang sedikit kotor hingga kuncir kudanya yang berantakan.
"Sudah, Pak. Fasilitas lengkap, WiFi kencang, dapur bersama, dan… harga yang sangat bersahabat," jawab Ghea sambil memberikan senyum paling manis yang dia punya.
Pak Baskoro tidak membalas senyum itu. Dia justru menggeser selembar kertas bermaterai ke arah Ghea. "Banyak yang mau kamar ini, Ghea. Ada dua belas orang yang mengantre setelah kamu. Tapi saya memilih kamu karena profilmu sebagai mahasiswa desain—biasanya orang seni terlalu sibuk dengan tugasnya sampai tidak punya waktu untuk berbuat aneh-aneh."
Ghea terkekeh kaku. "Ah, Bapak bisa saja. Saya memang lebih sering kencan dengan laptop daripada dengan manusia, Pak."
"Bagus. Karena itu syarat utamanya," suara Pak Baskoro mendadak dingin. Dia mengetuk-ngetuk jarinya ke atas kertas. "Silakan baca poin nomor satu. Bagian yang saya tebalkan dengan tinta merah."
Ghea menunduk, membaca baris pertama di bawah judul PERATURAN KHUSUS PENGHUNI GRIYA DAMAI.
"POIN 1: DILARANG KERAS MENJALIN HUBUNGAN ROMANTIS, KONTAK FISIK YANG BERSIFAT ASMARA, ATAU SEGALA BENTUK KETERIKATAN EMOSIONAL (BAPER) ANTAR SESAMA PENGHUNI KOS. PELANGGARAN TERHADAP POIN INI AKAN MENGAKIBATKAN PEMUTUSAN SEWA SECARA SEPIHAK TANPA PENGEMBALIAN DEPOSIT."
Ghea mengerutkan kening. Dia membacanya sekali lagi. Lalu sekali lagi. "Maaf, Pak… ini maksudnya saya nggak boleh pacaran sama anak kos sini?"
"Tepat sekali," jawab Pak Baskoro tanpa ekspresi. "Cinta itu seperti virus, Ghea. Dia merusak logika, menciptakan drama, dan yang paling parah, dia membuat tagihan listrik membengkak karena kalian pasti akan sering begadang di koridor hanya untuk bicara hal tidak berguna. Saya ingin kosan ini menjadi zona netral. Tempat untuk pulang dan istirahat, bukan panggung drama sinetron."
Ghea ingin tertawa, tapi wajah Pak Baskoro sangat serius. "Tapi Pak, kalau misalnya… cuma misalnya, ya… ada yang jatuh cinta beneran gimana? Perasaan kan nggak bisa diatur pakai materai sepuluh ribu."
Pak Baskoro mencondongkan tubuhnya ke depan. "Di sini bisa. Saya punya dua belas kamera CCTV yang aktif dua puluh empat jam. Saya bisa membedakan mana tatapan 'pinjam obeng' dan mana tatapan 'aku suka kamu'. Jika kamu keberatan, pintu gerbang masih terbuka lebar untuk kamu keluar."