Jika Griya Damai adalah sebuah kerajaan, maka Pak Baskoro adalah rajanya, dan CCTV adalah mata-mata tak kasat matanya. Namun, bagi Ghea, Rian adalah algojo pribadinya.
Pagi itu, baru pukul tujuh, Ghea sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan rambut singa dan piyama bergambar donat. Dia hanya ingin mengambil air galon di dispenser bersama yang terletak di ujung koridor. Namun, baru saja dia melangkah tiga kali, pintu kamar 203 terbuka.
Rian muncul dengan kemeja putih yang sudah disetrika sangat licin hingga lalat pun mungkin akan terpeleset jika hinggap di sana. Dia melirik jam tangannya, lalu melirik Ghea dengan tatapan menghakimi.
"Poin nomor empat," ucap Rian tanpa salam pembuka.
Ghea mengucek matanya yang masih lengket. "Hah? Poin apa?"
"Peraturan tambahan di mading bawah. Dilarang keluar kamar dengan pakaian yang 'menurunkan standar estetika kos'. Piyama kusam dan rambut berantakan itu polusi visual bagi penghuni lain," ucap Rian sambil melangkah melewatiku dengan aroma parfum kayu cendana yang mahal.
Ghea menganga. "Standar estetika? Ini kos-kosan, Mas, bukan panggung runway Jakarta Fashion Week! Lagian siapa yang mau lihat saya sepagi ini selain CCTV dan… dan Mas sendiri?"
Rian berhenti, menoleh sedikit tanpa memutar badannya. "Saya melihatnya. Dan Pak Baskoro melihatnya melalui monitor di ruangannya. Jangan salahkan saya kalau nanti siang ada nota denda di bawah pintumu."
Rian pergi begitu saja, meninggalkan Ghea yang menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Benar saja, saat Ghea kembali dari dispenser, dia melihat selembar kertas kuning terselip di celah bawah pintunya.
NOTA PERINGATAN 01 Pelanggaran: Penampilan tidak rapi di area publik. Tindakan: Teguran lisan (Denda akumulatif jika terulang). Ttd. Manajemen Griya Damai.
"Gila! Benar-benar gila!" Ghea meremas kertas itu. Dia belum genap dua puluh empat jam di sini dan sudah mendapat rapor merah.
Hari-hari berikutnya adalah neraka kecil bagi Ghea. Dia mulai menyadari bahwa Rian bukan sekadar penghuni kaku; pria itu adalah instrumen pengawas Pak Baskoro yang paling efektif. Rian akan berdehem keras jika Ghea tertawa terlalu kencang saat menelepon temannya. Rian akan mencatat waktu jika Ghea pulang lewat dari jam sepuluh malam.
Namun, di balik kebencian itu, Ghea juga menyadari sesuatu yang aneh. Griya Damai memang tenang, tapi ketenangan itu terasa mati. Tidak ada obrolan di dapur, tidak ada tawa di ruang tengah. Semua orang hidup seperti robot dalam kotak masing-masing.
Malam Jumat yang hujan deras menjadi titik balik. Ghea sedang berada di dapur bersama, merebus mie instan untuk meredam stres akibat revisi skripsi yang ditolak dosen. Di sana, dia bertemu Rian yang sedang menyeduh kopi hitam tanpa gula.
Suasana sangat canggung. Hanya ada suara air mendidih dan rintik hujan yang menghantam jendela kaca besar di samping dapur.
"Mas Rian nggak bosan hidup kayak gini terus?" tanya Ghea akhirnya, memecah keheningan.
Rian tidak menoleh. "Hidup seperti apa?"
"Kayak robot. Kerja, pulang, lapor, tidur. Mas nggak pernah pengin… ya, tahu sendiri, punya teman ngobrol yang asyik di sini? Atau mungkin pacar?"