Hujan masih mengguyur Jakarta saat Ghea dan Rian kembali masuk ke dalam lobi Griya Damai. Baju mereka basah kuyup di bagian bahu. Di luar gerbang tadi, Rian melakukan hal yang tak pernah Ghea bayangkan: pria kaku itu merangkul bahu Ghea dengan posesif di depan Dion, menatap si mantan dengan tatapan sedingin es, dan berkata, "Dia tunangan saya. Datang sekali lagi, dan saya pastikan kamu tidak akan bisa bekerja di instansi mana pun di kota ini."
Dion lari tunggang langgang. Tapi sekarang, masalah yang lebih besar sudah menunggu di ujung koridor.
Pak Baskoro berdiri di depan pintu ruang kerjanya, tangannya bersedekap di dada. Lampu lobi yang kuning temaram membuat bayangannya memanjang di lantai marmer, tampak seperti raksasa yang siap menelan siapa saja.
"Ke ruang makan. Sekarang," perintah Pak Baskoro. Suaranya rendah, tapi getarannya membuat bulu kuduk Ghea berdiri.
Mereka melangkah mengekor di belakang Pak Baskoro. Di ruang makan yang luas itu, Pak Baskoro duduk di kepala meja, sementara Ghea dan Rian duduk bersisian di hadapannya. Hening menyiksa selama beberapa saat, hanya ada suara detak jam dinding yang seolah menghitung sisa waktu mereka di kosan ini.
"Jadi," Pak Baskoro memulai, ia meletakkan ponselnya di atas meja. Layar itu menampilkan rekaman CCTV gerbang depan beberapa menit lalu. "Siapa yang mau menjelaskan lebih dulu? Kamu, Rian? Anak emas saya yang katanya paling menjunjung tinggi logika?"
Rian berdehem, mencoba menstabilkan suaranya. "Pak, soal yang tadi—"
"Tadi itu apa, Rian? Adegan drakor? Atau promosi film aksi?" potong Pak Baskoro tajam. "Kamu tahu aturan nomor satu di sini. Tidak ada asmara. Tidak ada drama. Dan tadi, saya melihat kamu merangkul penghuni baru saya di tengah hujan seperti pahlawan kesiangan."
Ghea memberanikan diri bicara. "Pak, ini salah saya. Mas Rian cuma mencoba membantu—"
"Diam, Ghea. Saya bicara dengan Rian," sahut Pak Baskoro tanpa menoleh. Matanya tetap terkunci pada Rian. "Rian, saya butuh kejujuran. Sejak kapan?"
Rian menarik napas panjang. Dia melirik Ghea sekilas, lalu kembali menatap Pak Baskoro dengan wajah poker face andalannya. "Sebenarnya sudah satu minggu, Pak."
Ghea hampir tersedak ludahnya sendiri. Satu minggu? Aku baru pindah tiga hari yang lalu! batinnya berteriak. Tapi dia sadar dia harus mengikuti permainan ini.
"Satu minggu?" Pak Baskoro menyipitkan mata. "Ghea baru pindah tiga hari."
"Kami sudah kenal sebelum dia pindah ke sini, Pak," lanjut Rian lancar, seolah dia sudah melatih kebohongan ini seumur hidup. "Ghea adalah alasan saya merekomendasikan Bapak untuk menerima dia sebagai penghuni baru. Saya tahu Bapak butuh penghuni yang tenang, dan saya pikir jika dia di bawah pengawasan saya, semuanya akan terkendali."
Pak Baskoro tertawa hambar. "Terkendali? Kamu menyebut keributan di depan gerbang tadi sebagai 'terkendali'?"
"Itu gangguan luar, Pak. Mantan pacar Ghea yang posesif. Justru karena hubungan kami, saya punya hak untuk mengusirnya tadi. Kalau Ghea hanya penghuni biasa, dia tidak punya perlindungan, dan orang itu akan terus meneror Griya Damai. Bapak tidak mau citra kosan ini rusak karena berita penguntitan, kan?"
Pak Baskoro terdiam. Logika Rian mulai masuk ke pikirannya. Pria paruh baya itu bersandar di kursinya, memutar-mutar gelas teh yang sudah dingin.
"Ghea," panggil Pak Baskoro tiba-tiba.
"I-iya, Pak?"