"Mas, ini serius saya harus pakai baju ini?"
Ghea mematut diri di depan cermin lobi. Dia mengenakan dress selutut berwarna pastel yang dipaksakan Rian untuk dibeli kemarin. Sangat bukan gaya Ghea yang biasanya hanya nyaman dengan jins belel dan kaos oversized.
Rian, yang tampil sangat keren dengan kemeja flanel mahal dan rambut yang tertata rapi menggunakan pomade, meliriknya tanpa ekspresi. "Ibu saya suka perempuan yang terlihat... 'teratur'. Dan kamu, saat ini, terlihat lima puluh persen lebih teratur dari biasanya."
"Hanya lima puluh persen?" Ghea mencibir sambil mencoba berjalan dengan flat shoes yang terasa menjepit jempol kakinya. "Ini pengorbanan besar, Mas. Kalau Pak Baskoro lihat kita keluar rapi begini, dia pasti bakal interogasi kita lagi pas pulang."
"Pak Baskoro sudah saya kasih tahu kalau kita mau 'kencan'. Dia cuma mendengus dan bilang jangan pulang lewat jam sepuluh malam," sahut Rian sambil membukakan pintu mobilnya. "Ayo masuk. Kita sudah telat sepuluh menit. Ibu saya benci ketidakteraturan."
Restoran yang dipilih Ibu Rian adalah restoran di daerah Menteng. Suasananya sunyi, hanya ada denting sendok dan musik keroncong halus yang mengalun. Di meja pojok, seorang wanita paruh baya dengan sanggul rapi dan bros mutiara besar di dadanya sudah menunggu.
"Rian," sapa wanita itu, suaranya tenang tapi berwibawa. Matanya langsung beralih ke Ghea, memindainya dari atas ke bawah seolah sedang mengaudit laporan keuangan. "Dan ini... Ghea?"
"Siang, Tante. Saya Ghea," Ghea mengulurkan tangan, berusaha memberikan senyum paling sopan yang dia punya.
Ibu Rian, Bu Ratna, menyambut tangan itu sekilas. "Duduklah. Rian bilang kamu mahasiswi desain? Jurusan yang... kreatif. Jarang sekali Rian mau dekat dengan orang seni. Biasanya dia hanya bicara dengan angka."
"Seni juga butuh hitungan, Tante. Estetika itu soal proporsi," jawab Ghea, mencoba terdengar pintar.
Rian menarik kursi untuk Ghea—sebuah gestur yang membuat Ghea hampir tersedak udara karena kaget—lalu duduk di sampingnya. "Ghea juga tinggal di Griya Damai, Bu. Itu yang membuat kami jadi dekat."
Bu Ratna menaikkan alisnya. "Oh? Bukannya kosan Pak Baskoro itu punya aturan ketat soal... kedekatan? Ibu dengar dia sangat kolot."
Rian berdehem, tangannya di bawah meja menyenggol tangan Ghea. "Memang, Bu. Makanya kami sangat berhati-hati. Pak Baskoro sangat menghargai privasi, tapi dia juga tahu kalau saya tidak mungkin sembarangan memilih teman."
"Bukan cuma teman, kan?" Bu Ratna memotong, matanya menyipit tajam. "Rian bilang di telepon kemarin kalau kalian sudah serius. Berapa lama kalian sudah saling kenal?"
Ghea dan Rian menjawab bersamaan. "Enam bulan," kata Ghea. "Satu tahun," kata Rian.
Hening sejenak. Bu Ratna meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ghea merutuki kebodohannya.
"Maksud saya," Ghea mencoba menyelamatkan keadaan, "kami kenal setahun lalu di sebuah pameran, tapi baru benar-benar dekat enam bulan terakhir ini. Ya kan, Mas?"