RUMA YANG SELALU MENUNGGUKU

Deny riski kohilay
Chapter #1

Bab 1 — Pulang Setelah Tiga Tahun

Hujan turun sejak sore.

Air menetes di kaca jendela bus yang kutumpangi, membentuk garis-garis panjang seperti kenangan yang perlahan turun dari kepala menuju dada. Aku duduk di dekat jendela dengan tas hitam di pangkuan, memandangi jalanan kota kecil yang mulai muncul satu per satu di balik kabut hujan.

Sudah lama sekali.

Tiga tahun.

Tiga tahun sejak terakhir kali aku melihat rumah itu.

Tanganku menggenggam erat tiket bus yang sudah lecek. Entah kenapa jantungku terasa semakin berat setiap kendaraan ini mendekati terminal.

Aku seharusnya senang karena akhirnya pulang.

Namun yang kurasakan justru takut.

Takut melihat rumah yang mungkin sudah berubah.

Takut melihat Ayah.

Dan paling takut… menghadapi kenyataan bahwa Nara tidak akan lagi menyambutku di depan pintu sambil berteriak heboh seperti dulu.

“Kak! Oleh-olehnya mana?!”

Aku memejamkan mata.

Suara itu masih terdengar jelas di kepalaku.

Terlalu jelas.

Bus berhenti perlahan di terminal kecil yang tampak basah oleh hujan. Beberapa penumpang turun terburu-buru sambil menutupi kepala dengan tas atau jaket.

Aku tetap diam beberapa detik.

Sampai sopir berkata, “Mas, terminal terakhir.”

Aku tersadar lalu mengangguk pelan.

“Iya, Pak.”

Saat kakiku menginjak tanah terminal, udara dingin langsung menyambut wajahku. Aroma hujan bercampur tanah basah membawa begitu banyak kenangan yang selama ini berusaha kulupakan.

Kota ini tidak banyak berubah.

Warung kopi dekat terminal masih berdiri dengan lampu kuning redupnya. Jalan sempit menuju gang rumahku masih dipenuhi lubang kecil berisi air hujan. Bahkan toko fotokopi tempat Nara dulu sering mencetak tugas sekolah masih ada.

Namun entah kenapa semuanya terasa asing.

Seolah kota ini tetap berjalan tanpa menungguku.

Aku berjalan pelan menyusuri gang sambil menyeret koper kecil. Langkahku terasa berat semakin dekat menuju rumah.

Dan saat rumah itu akhirnya terlihat di ujung jalan…

Dadaku langsung sesak.

Rumah bercat krem itu tampak jauh lebih tua.

Cat temboknya mulai mengelupas. Pagar besinya sedikit berkarat. Lampu teras menyala redup diterpa hujan.

Dulu rumah itu selalu terasa hangat.

Sekarang… terlihat kesepian.

Aku berdiri diam di depan pagar.

Tidak langsung masuk.

Ada rasa takut aneh yang menahan kakiku.

Bagaimana kalau mereka tidak lagi menganggapku keluarga?

Bagaimana kalau Ayah benar-benar membenciku sekarang?

Bagaimana kalau kepulanganku justru membuka luka lama?

Tanganku perlahan mendorong pagar.

Berdecit pelan.

Dan suara itu membuat pintu rumah terbuka.

Ibu berdiri di sana.

Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali kulihat lewat panggilan video beberapa bulan lalu. Rambutnya yang dulu hitam kini dipenuhi uban tipis.

Namun matanya masih sama.

Hangat.

Lembut.

Dan penuh rindu.

Beberapa detik kami hanya saling menatap tanpa suara.

Lalu mata Ibu mulai memerah.

“Kamu pulang…”

Suaranya pecah.

Kalimat sederhana itu langsung menghancurkan seluruh pertahananku.

Aku berjalan cepat lalu memeluknya erat.

Lihat selengkapnya