RUMA YANG SELALU MENUNGGUKU

Deny riski kohilay
Chapter #2

Bab 2 — Kursi Kosong di Meja Makan

Malam turun perlahan bersama suara hujan yang belum juga berhenti.

Aku duduk diam di ruang tamu sambil memandangi rumah yang terasa asing meski setiap sudutnya pernah menjadi bagian dari hidupku. Jam dinding berdetak pelan, mengisi keheningan yang menggantung sejak aku pulang tadi.

Ibu mondar-mandir di dapur.

Suara piring dan sendok beradu terdengar samar.

Sementara Ayah masih berada di bengkel belakang rumah.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada sambutan hangat seperti yang selalu kubayangkan selama di kota.

Dan mungkin… aku memang tidak pantas mendapatkannya.

Aku mengusap wajah kasar karena lelah. Perjalanan panjang dari kota seharusnya membuatku ingin segera tidur, tetapi pikiranku terlalu penuh untuk beristirahat.

Tatapanku kembali jatuh pada foto keluarga di dinding.

Nara tersenyum paling cerah di sana.

Aku masih ingat hari itu.

Ia memaksa kami semua pergi ke studio foto karena ingin punya “foto keluarga yang bagus buat dipajang nanti.”

Ayah sempat menolak karena merasa itu buang-buang uang.

Namun Nara terus merengek sambil memeluk lengan Ayah sampai akhirnya beliau menyerah.

“Kalau nanti aku gede, foto ini bakal jadi harta paling mahal!”

Waktu itu kami semua tertawa mendengarnya.

Tak ada yang tahu… foto itu benar-benar menjadi sesuatu yang paling berharga sekarang.

“Kak.”

Suara Ibu membuyarkan lamunanku.

“Makan malam dulu.”

Aku mengangguk pelan lalu berjalan menuju ruang makan.

Langkahku melambat saat melihat meja kayu itu.

Masih sama seperti dulu.

Taplak bunga berwarna cokelat masih menutupi permukaannya. Gelas-gelas lama masih tersusun rapi.

Namun ada satu hal yang langsung membuat dadaku terasa sesak.

Satu kursi kosong di ujung meja.

Kursi milik Nara.

Tidak ada yang memindahkannya.

Tidak ada yang berani.

Aku duduk perlahan sambil menatap makanan di meja.

Sayur asem.

Tempe goreng.

Ikan bakar.

Semuanya makanan favoritku.

Tenggorokanku terasa tercekat.

“Makasih, Bu…”

Ibu tersenyum kecil sambil duduk di depanku.

“Ayah mana?” tanyaku pelan.

“Masih di belakang.”

Tak lama kemudian suara langkah berat terdengar mendekat.

Ayah masuk tanpa banyak bicara lalu duduk di kursinya.

Suasana langsung menjadi canggung.

Aku menunduk, pura-pura fokus mengambil nasi.

Tidak ada yang bicara selama beberapa menit.

Hanya suara hujan dan denting sendok yang terdengar pelan.

Dan anehnya… keheningan itu terasa lebih menyakitkan daripada pertengkaran.

Dulu meja makan ini selalu ramai.

Nara tidak pernah bisa diam.

Ia selalu bercerita tentang sekolahnya, teman-temannya, atau hal-hal kecil yang bahkan tidak penting.

Namun justru suara cerewet itulah yang membuat rumah terasa hidup.

Sekarang…

Yang tersisa hanya kursi kosong dan kenangan.

Lihat selengkapnya