RUMA YANG SELALU MENUNGGUKU

Deny riski kohilay
Chapter #3

Bab 3 — Surat-Surat untuk Kakak

Aku tidak bisa tidur malam itu.

Hujan sudah berhenti sejak satu jam lalu, tetapi suara tetes air dari atap masih terdengar pelan di luar kamar. Aku berbaring menatap langit-langit dengan mata terbuka, sementara pikiranku dipenuhi terlalu banyak hal.

Tentang Ayah.

Tentang meja makan tadi.

Dan terutama… tentang Nara.

Sudah dua tahun berlalu sejak kepergiannya, tetapi rasa sakit itu masih terasa begitu hidup di rumah ini. Seolah waktu berhenti tepat di hari ketika kami kehilangannya.

Aku menghela napas panjang lalu bangkit dari tempat tidur.

Kamar ini masih sama seperti saat aku pergi merantau.

Meja kayu kecil di dekat jendela.

Poster band favoritku yang mulai pudar.

Lemari tua dengan pintu yang sedikit rusak karena pernah ditendang Nara waktu kecil.

Aku tersenyum tipis mengingatnya.

Dulu kami sering bertengkar hanya karena hal sepele.

Namun sekarang aku bahkan rela mendengar semua ocehannya lagi kalau itu bisa membuatnya kembali.

Langkahku perlahan keluar kamar.

Rumah sudah gelap.

Hanya lampu ruang tengah yang masih menyala redup.

Aku berjalan pelan menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun saat melewati lorong, langkahku terhenti di depan sebuah pintu putih.

Kamar Nara.

Dadaku langsung terasa berat.

Sudah dua tahun… tapi aku belum pernah masuk ke sana lagi.

Bahkan waktu pemakamannya pun aku tidak datang.

Tanganku perlahan menyentuh gagang pintu.

Dingin.

Aku menarik napas panjang lalu membukanya pelan.

Ceklek.

Aroma lembut bercampur debu langsung menyambutku.

Dan seketika seluruh kenangan menyerbu kepalaku.

Kamar itu masih sama.

Boneka kecil berbentuk kelinci masih berada di atas tempat tidur. Buku-buku sekolah tersusun rapi di meja belajar. Dinding penuh foto dan coretan kecil buatan Nara.

Seolah pemiliknya hanya sedang pergi sebentar.

Aku melangkah masuk perlahan.

Mataku mulai panas.

Di meja belajar ada sebuah gelas bekas berisi pensil warna yang mulai mengering. Aku menyentuh salah satunya pelan.

Nara suka menggambar.

Katanya suatu hari nanti ia ingin membuat buku cerita sendiri.

Namun mimpi itu berhenti terlalu cepat.

Aku duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap seluruh kamar.

Sunyi.

Sangat sunyi.

Dan di tengah keheningan itu, rasa bersalahku terasa semakin besar.

“Maaf…”

Suaraku hampir tak terdengar.

Aku menunduk sambil menggenggam sprei tempat tidur.

“Aku pulang terlambat…”

Air mataku jatuh perlahan.

Tiba-tiba pandanganku tertarik pada sebuah kotak kecil di bawah meja belajar.

Kotak berwarna biru muda dengan stiker bunga di atasnya.

Lihat selengkapnya