Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #1

Prolog

Rumah itu seharusnya sudah roboh sejak lama.

Setidaknya begitu kata orang-orang.

Tetangga sebelah pernah bilang atapnya terlalu berat. Tukang bangunan di ujung gang pernah bilang fondasinya tidak ideal. Bahkan petugas sensus pernah berdiri cukup lama di depan pagar sambil menghitung jumlah penghuninya.

Lalu bertanya dengan wajah bingung, “Semuanya tinggal di sini?”

Seolah-olah rumah itu sedang mencoba melanggar hukum fisika. Padahal mungkin memang begitu. Karena rumah nomor 13 tidak pernah dibangun sekaligus.

Ia tumbuh.

Sedikit demi sedikit.

Satu dinding ketika ada uang. Satu jendela ketika ada rezeki. Satu kamar ketika keluarga bertambah. Dan satu ventilasi kecil yang terlalu miring ketika cuaca terasa terlalu panas untuk ditanggung anak-anak yang tidur berdesakan.

Tidak ada arsitek.

Tidak ada gambar kerja.

Tidak ada perencanaan besar.

Hanya ada seorang ayah yang terus berpikir: bagaimana caranya besok keluarga ini masih bisa tinggal dengan nyaman sedikit lebih lama.

Dari luar, rumah itu terlihat aneh. Jendelanya tidak seragam. Catnya berbeda-beda. Lantai duanya seperti ditambahkan setelah bangunan selesai. Dan ventilasi kecil di atas ruang tengah tampak seperti kesalahan yang lupa diperbaiki.

Keluarga yang tinggal di sana menyebutnya:

setengah jendela.

Lihat selengkapnya