Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #2

Rumah yang Terlalu Penuh

Rumah nomor 13 selalu bangun lebih dulu daripada matahari. Bukan karena rajin. Karena mustahil empat belas orang hidup dalam satu rumah tanpa menghasilkan suara.

Pukul lima kurang seperempat pagi, suara pertama biasanya berasal dari dapur.

Kletek.

Kletek.

Kletek.

Pisau mengenai talenan. Disusul bunyi wajan. Lalu bunyi panci.

Lalu suara Ibu. Suara yang secara teknis masih bisa disebut manusia, tetapi pada jam segini lebih mirip pengeras suara masjid yang kehilangan kesabaran.

“DINDA! GASNYA KECILIN!”

“Hah?”

“GASNYA!”

“OH!”

Lima detik kemudian.

“KEKECILAN!”

“YA NAIKIN LAGI!”

Di lantai atas, Satya membuka mata. Pelan.

Sangat pelan.

Seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah hidup masih layak dilanjutkan hari ini. Langit-langit kamar berada kurang dari satu meter di atas wajahnya. Kalau duduk terlalu cepat, kepalanya bisa terbentur.

Hal itu pernah terjadi.

Tiga kali.

Kamar yang ia tempati sebenarnya bukan kamar. Lebih tepat disebut ruang yang berhasil dinegosiasikan dari sisa bangunan. Kasurnya menempel ke dinding. Meja gambarnya menempel ke kasur. Lemari plastik menempel ke meja. Kalau ia ingin berdiri, ia harus meminta izin kepada geometri.

Satya memejamkan mata lagi. Masih ada lima belas menit sebelum alarm berbunyi. Lima belas menit adalah waktu yang cukup untuk kembali tidur.

Sayangnya, takdir punya rencana lain.

BRAK! Sesuatu menghantam pintu.

“AAAAA!” Disusul tangisan.

Satya langsung duduk. “Kenapa lagi?”

Pintu terbuka. Fajar muncul. Masih memakai kaus terbalik. Rambutnya berdiri ke segala arah.

Dan di belakangnya, Mika sedang menangis. “Aku ditabrak.”

“Ditabrak siapa?”

Mika menunjuk Fajar.

“Aku lagi lari.”

“Kenapa lari?”

“Aku dikejar.”

“Dikejar siapa?”

“Aku.” Lulu muncul dari belakang.

Satya menatap 2 adik dan 1 keponakan bergantian. Lalu menatap jam. Pukul lima kurang sepuluh.

Luar biasa.

Hari bahkan belum dimulai dan mereka sudah berhasil menciptakan kecelakaan lalu lintas domestik.

“Keluar.”

“Tapi...”

“Keluar.”

“Tapi Mika nangis.”

“Karena kalian.”

“Tapi...”

“Keluar.”

Fajar mengangguk. Logika itu tampaknya bisa diterima. Mereka bertiga pergi. Tangisan Mika menjauh. Lalu muncul lagi dari ujung lorong. Lalu semakin keras.

Lalu disusul suara Lulu.

Lalu suara Fajar.

Lalu suara Ibu.

Lalu suara Riko, Tia, Sari dan tangisan bayi.

Ya ada bayi 5 bulan di rumah ini, anaknya Mbak Ita si sulung.

Satya menjatuhkan wajah ke bantal.

Rumah nomor 13 resmi aktif.

----

Sepuluh menit kemudian ia menyerah. Tidur lagi adalah cita-cita yang terlalu ambisius.

Ia turun ke bawah membawa handuk. Tangga rumah nomor 13 cukup sempit sehingga dua orang tidak bisa berpapasan tanpa negosiasi. Di anak tangga ketiga ia bertemu Tia. Membawa ring light.

“Pagi.”

“Ngapain bawa itu?”

“Mau bikin konten.”

“Jam lima pagi?”

“Golden hour.”

“Golden hour apanya? Matahari aja masih loading.”

Tia mendecak. “Kamu tidak mengerti seni.”

“Aku juga gak mau.”

Mereka berpapasan dengan susah payah. Ring light hampir menghantam muka Satya. Hari yang menjanjikan.

Sungguh.

Begitu sampai bawah, aroma bawang goreng langsung menyambutnya. Dapur rumah nomor 13 ukurannya kecil.

Sangat kecil.

Kalau dua orang berdiri di dalamnya, orang ketiga harus memiliki kemampuan menembus tembok.

Ibu sedang menggoreng tempe. Bapak duduk di dekat pintu belakang sambil membongkar radio tua. Riko minum kopi. Mas Toni baru pulang narik. Dan bayi Mbak Ita sedang menggigit sendok plastik dengan kesungguhan seorang filsuf.

“Pagi.”

“Pagi,” jawab beberapa orang sekaligus.

Satya mengambil nasi. Lalu duduk di lantai ruang tengah. Karena kursi makan sudah penuh.

Lihat selengkapnya