Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #3

Mahasiswa Arsitektur dan Makhluk-Makhluk Berbahaya

Ada banyak hal yang berbahaya bagi mahasiswa arsitektur.

Deadline.

Dosen.

Harga alat gambar.

Printer yang tiba-tiba rusak lima menit sebelum pengumpulan.

Tetapi di antara semuanya, ada satu ancaman yang sering diremehkan manusia.

Teman sekelas.

---

Kampus masih terlihat setengah mengantuk ketika Satya dan Nadira tiba. Mahasiswa bertebaran di berbagai sudut. Sebagian membawa tabung gambar. Sebagian membawa laptop. Sebagian membawa ekspresi seperti baru kehilangan hak hidup.

Mahasiswa arsitektur mudah dikenali. Mereka berjalan sambil membawa benda-benda yang bentuknya aneh.

Kadang kardus. Kadang papan. Kadang bangunan mini.

Kadang sesuatu yang bahkan penciptanya sendiri tidak yakin itu apa.

Satya sedang berjalan menuju gedung studio ketika sebuah suara memanggil. "SAT!"

Selesai.

Masalah datang. Rangga muncul dari kejauhan. Tinggi.

Berisik.

Energinya seperti minuman bersoda yang diberi kopi. Di belakangnya ada Nico. Dan di belakang Nico ada Bagas. Kelompok yang secara ilmiah tidak pernah menghasilkan ketenangan.

"Bro!" kata Rangga.

"Apa?"

"Kamu tahu gak?"

"Nggak."

"Aku belum ngomong."

"Biasanya lebih aman begitu."

Rangga mengabaikannya. "Pak Jatmiko lagi mood jelek."

Seluruh mahasiswa di sekitar mereka langsung menegang. Pak Jatmiko adalah dosen Studio Dasar. Legenda kampus.

Konon beliau pernah membuat seorang mahasiswa menangis hanya dengan melihat gambar denah selama tiga detik. Konon beliau bisa menemukan kesalahan perspektif dari jarak tujuh meter. Konon beliau bisa mencium maket yang dikerjakan semalam. Tidak ada yang tahu mana yang benar. Tetapi tidak ada yang cukup berani untuk mengecek.

"Kamu tahu dari mana?" tanya Satya.

"Tadi aku lihat beliau."

"Terus?"

"Beliau jalan cepat."

"Itu indikator apa?"

"Bahaya."

Logika Rangga memang memiliki jalur sendiri.

---

Studio Dasar berada di lantai dua. Ruangan besar. Penuh meja gambar. Penuh papan presentasi. Dan penuh mahasiswa yang sedang mengalami krisis eksistensial ringan.

Satya baru saja duduk ketika Nico menepuk pundaknya. "Bro."

"Hm?"

"Kamu pakai rapido apa?"

Satya membeku. Pertanyaan ekonomi. Bahaya.

"Yang murah."

"Merk apa?"

"Yang penting nulis."

Nico mengangguk. Tidak puas. "Tapi merk apa?"

Satya berpikir keras. Sangat keras. Karena kalau menyebut merknya, kemungkinan besar seluruh kelas akan tahu bahwa alat gambarnya berasal dari rak diskon toko alat tulis.

Untungnya Pak Jatmiko masuk. Penyelamatan datang dalam bentuk ketakutan.

---

"Selamat pagi."

"Pagiii, Pak."

"Jangan semangat."

Seluruh kelas langsung diam.

Pak Jatmiko meletakkan map di meja. Lalu menatap semua mahasiswa. Satu per satu. Seperti petugas imigrasi yang sedang mencari pelanggaran.

"Hari ini saya mau bicara tentang rumah."

Nah. Ini lebih aman. Satya sedikit rileks. Rumah adalah topik yang mudah. Ia tinggal di dalamnya. Setidaknya secara teori.

Pak Jatmiko mengambil spidol. Lalu menulis satu kata besar di papan.

RUMAH

"Kalian tahu apa masalah mahasiswa arsitektur?"

Tidak ada yang menjawab. Karena itu jebakan. Semua orang tahu.

"Masalahnya kalian terlalu suka menggambar rumah yang ingin dipuji." Beliau menoleh. "Kalian jarang menggambar rumah yang benar-benar dihuni manusia."

Sunyi.

Lihat selengkapnya