Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #4

Investasi Bernama Kambing

Ada dua jenis keputusan yang biasa diambil Bapak.

Jenis pertama adalah keputusan yang terdengar aneh. Jenis kedua adalah keputusan yang terdengar aneh, lalu menjadi jauh lebih aneh setelah dijelaskan.

Pembelian kambing termasuk kategori kedua. Masalahnya bukan karena ada kambing. Masalahnya karena rumah nomor 13 bahkan kesulitan menampung manusia.

Sekarang ada tambahan spesies baru.

---

"Pak."

"Iya?"

"Kenapa ada kambing?"

Bapak berdiri di halaman dengan dada sedikit membusung. Posisi yang biasa beliau ambil ketika merasa baru melakukan sesuatu yang luar biasa. "Kita pelihara."

Satya menunggu penjelasan lanjutan. Tidak ada.

"Kita pelihara?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Investasi."

Riko yang sedang minum es langsung tersedak. "Investasi apaan?"

"Kambing."

"Itu saya tahu."

"Ya itu."

Satya menatap Riko. Riko menatap Satya. Mereka berdua menatap kambing. Kambing menatap daun singkong.

Diskusi tidak menghasilkan kemajuan.

---

Ibu keluar dari dapur. Masih memegang pisau dapur. Tanda bahaya tingkat sedang.

"Pak."

"Hm?"

"Jelaskan."

Bapak langsung terlihat lebih hati-hati. "Murah."

"Nah."

Ibu menunjuk. "Kalau dia bilang murah, berarti sebentar lagi saya pusing."

Semua penghuni rumah mengangguk. Mereka hafal pola ini.

---

Dua tahun lalu Bapak pernah membeli lemari bekas karena murah. Ternyata salah satu kakinya hilang. Lalu beliau membuat kaki pengganti dari bata merah. Selama tiga bulan keluarga memiliki lemari yang berdiri di atas fondasi bangunan.

Tahun lalu beliau membeli kipas angin karena murah. Kipasnya memang berfungsi.Tapi hanya punya dua pilihan kecepatan:

pelan sekali.

dan badai tropis.

Sekarang beliau membeli kambing. Karena murah. Ini bukan perkembangan yang menenangkan.

---

"Berapa, Pak?" tanya Riko.

"Dua ratus."

Sunyi.

"Ribu?"

"Iya."

Sunyi semakin panjang.

Mas Toni yang baru bangun bahkan ikut duduk. "Dua ratus ribu?"

"Iya."

"Pak..."

Satya menunjuk kambing itu. "Itu kambing atau promo cuci gudang?"

Bapak terlihat tersinggung. "Kalian jangan meremehkan kemampuan negosiasi saya."

Menurut cerita Bapak, kejadian itu bermula di pasar. Beliau sebenarnya hanya ingin membeli baut. Lalu melihat seorang bapak lain menjual kambing. Kemudian terjadi percakapan yang menurut Bapak sangat masuk akal. Menurut seluruh penghuni rumah tidak masuk akal sama sekali.

"Awalnya tiga ratus lima puluh." Bapak mulai bercerita.

"Terus?"

"Saya tawar."

"Terus?"

"Jadi dua ratus."

"Turunnya jauh amat."

"Itu namanya bakat."

Ibu menyipitkan mata. "Kenapa dijual murah?"

Bapak diam.

"Pak."

"Ya?"

"Kenapa dijual murah?"

"Katanya lagi butuh uang."

"Terus?"

"Ya saya bantu."

Satya menutup wajah. Jadi sekarang mereka bukan membeli kambing. Mereka melakukan kegiatan sosial.

Sementara itu kambing yang menjadi pusat perdebatan tampak sama sekali tidak tertarik pada status ekonominya. Ia sedang memakan koran. Bukan sedikit. Banyak.

Sangat banyak.

Halaman olahraga hilang lebih dulu. Lalu halaman iklan. Kemudian halaman utama.

"WOI!" teriak Bapak.

Kambing mengunyah santai. Tatapannya damai. Seolah berkata:

aku tidak melihat masalah apa pun.

"Dia makan koran."

"Namanya juga kambing."

"Itu berita."

"Berarti sekarang dia berwawasan." Riko tertawa keras.

Ibu tidak. Karena koran itu baru dibeli pagi tadi.

---

RAPAT PENAMAAN NASIONAL

Menjelang siang. Fajar mengusulkan sesuatu yang tidak perlu diusulkan. "Kita kasih nama."

Lihat selengkapnya