Ada satu pertanyaan yang selama bertahun-tahun tidak pernah berhasil dijawab Satya. Pertanyaannya sederhana. Sangat sederhana.
Yaitu:
Kapan sebenarnya rumah nomor 13 selesai dibangun?
Jawabannya selalu berubah.
Kalau bertanya kepada Ibu: "Belum selesai."
Kalau bertanya kepada Bapak: "Hampir."
Kalau bertanya kepada tukang bangunan: "Belum."
Kalau bertanya kepada dompet keluarga: "Jangan dulu."
Rumah nomor 13 memiliki kebiasaan aneh. Ia selalu berada dalam kondisi renovasi ringan. Selalu.
Sepanjang tahun.
Sepanjang dekade.
Mungkin sepanjang sejarah manusia.
Ada bagian yang baru dicat. Ada bagian yang belum dicat. Ada bagian yang dicat lalu lupa dilanjutkan. Ada bagian yang tidak dicat karena semua orang sepakat berpura-pura bagian itu tidak ada.
---
Pagi itu Satya terbangun oleh suara yang sangat dikenalnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Tok.
Palu. Bahaya.
Satya membuka mata. Lalu menatap langit-langit. Kemudian memejamkannya lagi.
Mungkin suara itu tidak nyata. Mungkin mimpi.
TOK.
TOK.
TOK.
Bukan mimpi. Sial.
Ia melihat jam. Pukul enam lewat empat menit. Terlalu pagi untuk membangun peradaban.
Di luar kamar terdengar suara Riko. "PAK!"
"YA?"
"ITU APA?!"
Satya langsung duduk. Nada suara itu biasanya berarti bencana sedang berkembang.
Ketika turun ke bawah, ia menemukan seluruh keluarga sudah berkumpul. Bahkan kambing. Kambing tampak sangat tertarik pada situasi.
Di tengah ruang tamu berdiri Bapak. Membawa palu. Meteran. Pensil.
Dan semangat yang jauh lebih besar daripada anggaran.
"Pak..."
"Iya?"
"Kenapa ada lubang di tembok?"
Sunyi.
Semua menoleh ke arah tembok. Benar. Ada lubang.
Lubang baru.
Lubang yang kemarin belum ada. Lubang yang sekarang ada.
"Kita bikin rak." kata Bapak bangga.
Ibu memegang kening. "Pak."
"Iya?"
"Kenapa bikin lubang dulu baru bilang?"
"Supaya kelihatan serius."
Tidak ada seorang pun yang mampu membantah logika itu. Karena tidak ada yang mengerti logikanya.
---
PROYEK NASIONAL
Menurut penjelasan Bapak, ruang tamu membutuhkan rak baru. Alasannya sederhana. Barang di rumah terlalu banyak.
Ini benar.
Sangat benar. Rumah nomor 13 menyimpan benda-benda yang secara ilmiah tidak diketahui asal-usulnya.
Di atas lemari ada:
• radio rusak,
• radio setengah rusak,
• radio yang sedang diperbaiki,
• dan radio yang tidak ada yang ingat kenapa disimpan.
Di bawah tangga ada: koper, koper kosong, koper yang isinya koper lain.
Satya pernah menemukan setrika tua. Tidak ada yang mengaku memilikinya. Tidak ada yang tahu fungsinya. Tetapi semua orang sepakat untuk tetap menyimpannya.
"Jadi kita bikin rak." kata Bapak.
"Kapan?" tanya Ibu.
"Sekarang."
"Kenapa?"
"Biar selesai."
Kalimat itu terdengar indah. Masalahnya, sejarah menunjukkan bahwa proyek Bapak jarang selesai sesuai jadwal.