Ada satu masalah yang tidak pernah benar-benar selesai di rumah nomor 13.
Bukan kebocoran. Bukan listrik. Bukan kambing. Melainkan ruang.
Atau lebih tepatnya:
ketiadaan ruang.
Rumah nomor 13 memiliki penghuni lebih banyak daripada jumlah kamar yang masuk akal. Akibatnya, setiap jengkal rumah harus bekerja lembur.
Ruang tamu menjadi kamar tidur. Ruang keluarga menjadi ruang belajar. Lorong menjadi tempat menjemur pakaian. Dan kadang-kadang, kalau keadaan sangat mendesak, dapur menjadi ruang rapat keluarga.
Pagi itu Satya menemukan Fajar sedang tidur di bawah meja makan.
"Apa yang kamu lakukan?"
Fajar membuka satu mata. "Tidur."
"Itu aku tahu."
"Kak Satya pintar ya."
Satya menarik napas panjang. "Kenapa tidur di situ?"
"Kamar penuh."
Masuk akal. Aneh. Tapi masuk akal.
Karena malam sebelumnya Lulu menendangnya saat tidur. Mika mengambil bantalnya. Dan akhirnya Fajar melakukan migrasi internal.
---
KRISIS MEJA GAMBAR
Masalah ruang kembali menyerang Satya setelah sarapan. Ia harus mengerjakan tugas studio. Butuh meja. Butuh ketenangan. Butuh konsentrasi.
Yang berarti ia membutuhkan sesuatu yang tidak tersedia di rumah nomor 13.
Ia membuka meja gambar lipatnya. Menyusun alat-alat. Menarik kursi.
Baru lima menit menggambar.
"Kak." Suara Sari.
"Apa?"
"Boleh pinjam penghapus?"
"Buat apa?"
"Mau gambar."
"Ya ambil."
Dua menit kemudian.
"Kak."
"Apa lagi?"
"Pensil warna ada?"
"Ada."
Lima menit kemudian.
"Kak."
Satya mulai curiga. "Apa?"
"Mau lihat gambar aku?"
"Tidak."
"Tapi lucu."
"Tidak."
"Tapi ada dinosaurus."
Satya menyerah. Ada alasan kenapa mahasiswa arsitektur sering bekerja sampai dini hari. Karena malam adalah satu-satunya waktu ketika anak-anak tidak mengadakan konferensi internasional di dekat meja kerja.
---
TUGAS YANG MENYEBALKAN
Di kampus, tugas "rumah paling manusiawi" mulai menjadi wabah. Semua mahasiswa membicarakannya. Semua kebingungan.
Semua sok tahu.
Rangga datang dengan ekspresi seorang ilmuwan yang baru menemukan teori revolusioner. "Aku dapat ide."
Satya langsung khawatir.
Biasanya ide Rangga berbahaya.
"Apa?"
"Rumah paling manusiawi adalah rumah yang punya kolam renang."
"..."
"Karena manusia suka berenang."
"Itu bukan logika."
"Masuk akal."