Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #7

Rumah yang Terlalu Sepi

Satya baru menyadari satu hal penting tentang Nadira. Nadira tidak pernah terburu-buru pulang. Awalnya ia mengira itu karena Nadira rajin. Atau karena suka belajar. Atau karena memang mahasiswa teladan yang lahir dengan kemampuan mengerjakan tugas tanpa mengeluh.

Tetapi setelah beberapa minggu mengenalnya, Satya mulai curiga. Alasannya bukan itu.

Sama sekali bukan itu.

Kecurigaan itu muncul pada hari Rabu. Hari yang panas. Hari yang membuat seluruh mahasiswa terlihat seperti sedang dilelehkan perlahan oleh matahari.

Kuliah berakhir pukul empat sore. Mahasiswa lain langsung bubar. Sebagian pulang. Sebagian ke kantin. Sebagian ke fotokopian. Sebagian ke tempat-tempat yang hanya diketahui mahasiswa tingkat akhir.

Satya sedang membereskan tabung gambar ketika melihat Nadira masih duduk. Sendirian. Di studio yang hampir kosong.

"Kamu nggak pulang?" tanya Satya.

"Nanti."

"Jam berapa?"

"Nanti."

"Itu bukan jam."

Nadira mengangkat bahu. "Kamu?"

"Aku mau pulang."

"Kenapa?"

Satya tertawa. "Karena kalau telat, kambing bisa makan tugas lagi."

Untuk pertama kalinya hari itu Nadira tersenyum. "Masih suka lepas?"

"Dua kali seminggu."

"Itu statistik yang mengkhawatirkan."

"Buat kami itu kemajuan."

---

RUMAH NADIRA

Sore itu hujan turun. Tidak deras. Tapi cukup untuk membuat mereka berteduh.

"Kamu bawa motor?" tanya Nadira.

"Enggak."

"Aku antar."

Satya ragu. "Serius?"

"Iya."

Akhirnya mereka berangkat. Motor Nadira melaju pelan menembus gerimis. Satya baru tahu rumah Nadira berada di kompleks perumahan yang cukup mewah.

Pagar tinggi.

Jalan rapi.

Pohon tertata.

Rumah-rumahnya seperti hasil gambar brosur.

"Masuk aja." kata Nadira.

"Hah?"

"Nunggu hujan reda."

Satya ragu. Sangat ragu. Karena pengalaman hidupnya mengatakan bahwa sepatu yang ia pakai kemungkinan lebih tua daripada lantai rumah ini.

Namun akhirnya ia masuk. Dan langsung berhenti. Rumah itu besar. Sangat besar. Ruang tamunya hampir sama luasnya dengan lantai bawah rumah nomor 13.

Lampunya cantik.

Sofanya mahal.

Dindingnya bersih.

Udara di dalam terasa dingin.

Dan...

sunyi. Sangat sunyi.

Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara orang memasak. Tidak ada suara anak-anak berlari. Tidak ada suara orang berteriak dari dapur. Satya bahkan bisa mendengar detik jam dinding.

Tik.

Tik.

Tik.

"Kamu sendiri?"

"Iya."

Lihat selengkapnya