Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #8

Tugas yang Tidak Bisa Digambar

Menurut Satya, ada dua jenis tugas kuliah. Jenis pertama adalah tugas yang sulit. Jenis kedua adalah tugas yang membuatmu mempertanyakan alasan memilih jurusan. Tugas dari Pak Jatmiko termasuk kategori kedua.

Sudah hampir dua minggu sejak tugas itu diberikan. Dan Satya masih belum punya jawaban yang jelas.

Desain rumah paling manusiawi.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi semakin dipikirkan, semakin rumit.

Kalau rumah manusiawi harus nyaman...

maka rumah Nadira menang.

Kalau rumah manusiawi harus luas...

rumah nomor 13 kalah telak.

Kalau rumah manusiawi harus rapi...

rumah nomor 13 bahkan tidak masuk nominasi.

Kalau rumah manusiawi harus tenang...

rumah nomor 13 mungkin akan didiskualifikasi.

Satya sedang memikirkan semua itu ketika Pak Jatmiko masuk ke studio. Seluruh mahasiswa langsung duduk lebih tegak. Refleks. Seperti rusa yang melihat harimau.

"Sudah dapat ide?" tanya Pak Jatmiko.

Tidak ada yang menjawab.

"Bagus."

Kelas semakin takut.

"Kalau kalian sudah merasa yakin sekarang, berarti kalian belum berpikir cukup jauh." Pak Jatmiko mulai berjalan di antara meja. "Saya lihat banyak yang masih menggambar rumah bagus."

Beliau berhenti di meja Nico. Rumah minimalis.

Putih. Bersih. Cantik.

"Siapa yang tinggal di sini?"

Nico berkedip.

"Empat orang, Pak."

"Siapa?"

"Suami, istri, dua anak."

"Namanya?"

Nico membeku. "Pak?"

"Namanya."

"Eee..."

"Nah." Pak Jatmiko berjalan lagi. "Masalah mahasiswa arsitektur adalah kalian sering mendesain bangunan sebelum mengenal manusianya."

Kelas sunyi.

"Padahal rumah itu untuk manusia."

Kalimat itu menghantam Satya lebih keras daripada yang lain. Karena untuk pertama kalinya ia sadar. Selama ini ia juga melakukan hal yang sama.

Ia sibuk menggambar rumah.

Tetapi belum benar-benar memahami orang-orang yang tinggal di dalamnya.

---

WAWANCARA KELUARGA

Malam itu Satya pulang membawa misi. Ia membuka buku catatan. Lalu mengumpulkan keluarga. Yang ternyata lebih sulit daripada mengumpulkan kucing.

Ibu sedang memasak.

Bapak sedang memperbaiki lampu.

Mas Toni sedang tidur.

Riko sedang mengelap motor.

Anak-anak sedang bermain.

"Kumpul bentar!" teriak Satya.

"Tidak mau." jawab Riko.

"Ada apa?" teriak Ibu.

"Mau tanya."

"Kalau bukan soal uang, tanya aja dari sana."

"Ini buat tugas."

Kalimat itu ampuh. Karena keluarga nomor 13 memiliki rasa hormat yang sangat besar terhadap tugas kuliah. Mereka tidak mengerti tugasnya. Tapi mereka menghormatinya.

Lima menit kemudian semua berkumpul. Termasuk kambing. Tidak ada yang mengundangnya.

---

PERTANYAAN PERTAMA

Satya membuka buku.

"Oke."

Semua menatap.

Lihat selengkapnya