Ada banyak hal aneh di rumah nomor 13.
Jumlah penghuninya.
Tangganya.
Kambingnya.
Cara Bapak memperbaiki barang menggunakan benda yang seharusnya tidak dipakai untuk memperbaiki barang. Tetapi dari semuanya, yang paling aneh tetap setengah jendela.
Bentuknya tidak jelas.
Bukan jendela. Bukan ventilasi. Bukan lubang angin.
Ia berada di atas ruang tengah. Dekat langit-langit. Miring sedikit ke kiri. Seperti seseorang pernah memasangnya sambil berdiri di atas kursi yang goyah.
Yang sebenarnya sangat mungkin terjadi.
Karena itu memang gaya kerja Bapak.
---
Pagi itu Satya sedang menggambar denah rumah ketika Pak Jatmiko memberikan tugas tambahan.
"Observasi."
Kelas langsung panik. Mahasiswa arsitektur takut dua hal.
Deadline. Dan kata "observasi".
Karena biasanya berarti kerja tambahan.
"Amati rumah kalian." kata Pak Jatmiko.
"Rumah sendiri, Pak?" tanya Rangga.
"Iya."
"Kalau saya kos?"
"Amati kos."
"Kalau kontrakan?"
"Amati kontrakan."
"Kalau numpang?"
"Amati yang ditumpangi."
Rangga mengangguk. Tidak puas. Tapi menyerah.
Pak Jatmiko melanjutkan. "Saya tidak mau ukuran."
Beberapa mahasiswa berhenti menulis.
"Saya tidak mau luas bangunan."
Lebih banyak yang berhenti menulis.
"Saya mau cerita."
Sunyi.
"Cari satu bagian rumah yang paling berarti." Beliau mengetuk meja. "Lalu cari tahu kenapa."
---
MENCARI CERITA
Malamnya Satya berjalan mengelilingi rumah. Membawa buku catatan. Seperti detektif. Bedanya, detektif biasanya memiliki petunjuk.
Ia mulai dari dapur. Dapur punya banyak cerita.
Di sana Ibu memasak setiap hari.
Di sana semua orang berkumpul saat malam takbiran.
Di sana pernah terjadi insiden panci gosong tahun lalu.
Yang sampai sekarang masih disebut-sebut.
Tetapi bukan itu.
Ia pindah ke teras. Teras juga punya cerita.
Mas Toni sering tidur di sana. Pak Darto sering nongkrong di sana. Fajar pernah jatuh dari kursi di sana. Tiga kali.
Tetapi bukan itu juga.
Lalu ruang tengah. Tempat paling sibuk di rumah.
Di sana ada televisi. Ada meja makan. Ada tikar. Ada lemari. Ada mainan. Ada buku.
Ada kabel yang tidak diketahui ujungnya ke mana.
Tetapi lagi-lagi.
Bukan itu.
Satya menoleh ke atas. Setengah jendela.
Entah kenapa. Matanya selalu kembali ke sana.
---
MISTERI USIA SETENGAH JENDELA
Keesokan harinya. Satya memulai penyelidikan.
Korban: Setengah jendela.
Saksi pertama: Ibu.
"Bu."
"Hm?"
"Setengah jendela itu dibuat kapan?"
Ibu berpikir. "Lama."
"Berapa lama?"
"Lama sekali."
"Itu bukan angka."
"Pokoknya kamu masih kecil."
Informasi minim.
---
SAKSI KEDUA
Mbak Rara. Setidaknya ia lebih tua 2 tahun dengan Satya. Harusnya lebih tahu.
"Setengah jendela?"