Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #11

Orang yang Ingin Menjual Rumah

Berita buruk memiliki cara yang unik untuk datang. Ia tidak mengetuk pintu. Tidak mengirim pesan. Tidak memberi peringatan.

Ia datang begitu saja.

Lalu duduk di ruang tamu.

Seolah memang tinggal di sana.

---

Hari itu dimulai seperti hari-hari lain di rumah nomor 13.

Ibu memasak.

Fajar kehilangan sesuatu.

Lulu dan Mika bertengkar soal sesuatu yang bahkan mereka sendiri lupa penyebabnya.

Mas Toni tidur.

Riko bekerja dari rumah.

Bapak sedang memperbaiki radio yang kemungkinan besar lebih tua daripada sebagian penghuni rumah.

Dan Satya sedang menggambar.

Ia baru saja menyelesaikan revisi ketiga tugasnya.

Setelah perjuangan panjang dalam beberapa minggu terakhir, hari ini ia merasa desainnya mulai menemukan bentuk.

Bukan rumah mewah. Bukan rumah futuristik. Bukan rumah yang cocok masuk majalah.

Tetapi rumah yang terasa hidup.

Saat itulah suara motor berhenti di depan pagar. Tidak ada yang terlalu memperhatikan. Karena rumah nomor 13 selalu didatangi seseorang.

Tetangga.

Kurir.

Teman.

Penjual gas.

Penagih iuran.

Atau kambing yang pulang sendiri.

Namun kali ini berbeda. Seorang pria turun dari motor. Kemeja rapi. Sepatu mengilap. Tas kulit. Wajah yang tampak terlalu serius untuk gang sempit seperti ini.

Ia berdiri di depan rumah.

Mengamati.

Lama. Sangat lama.

"Siapa tuh?" bisik Riko.

"Gak tahu." jawab Satya.

Pria itu lalu masuk. "Permisi."

Bapak keluar. "Iya?"

Pria itu tersenyum sopan. "Pak Hadi?"

"Iya."

"Saya Arman."

Sunyi.

Nama itu tidak berarti apa-apa bagi Satya. Tetapi wajah Bapak berubah. Sedikit. Hanya sedikit. Namun cukup untuk membuat Satya memperhatikannya.

---

TAMU YANG TIDAK DIUNDANG

Mereka berbicara di ruang tamu. Satya tidak bermaksud menguping. Tetapi ruang tamu rumah nomor 13 memiliki konsep privasi yang sangat fleksibel. Kalau seseorang berbicara di ruang tamu, seluruh rumah bisa mendengar. Termasuk kambing.

"Saya sebenarnya sudah lama mencari Bapak." kata Arman.

"Oh."

"Baru dapat alamat ini."

"Oh."

Percakapan berjalan seperti dua orang yang sedang bermain tenis menggunakan sendok.

Aneh.

Lalu Arman membuka map. Dan suasana langsung berubah. Satya melihat Bapak duduk lebih tegak. Ibu berhenti mengupas bawang. Riko berhenti memegang obeng. Bahkan Mas Toni terbangun.

Yang lebih mengejutkan daripada isi map itu sendiri.

TANAH

Kata itu muncul beberapa menit kemudian. Tanah.

Satya langsung memperhatikan. Karena di Indonesia, ketika orang mulai berbicara soal tanah, biasanya ada dua kemungkinan.

Pertama.

Warisan.

Kedua.

Masalah.

Dan ekspresi wajah Bapak menunjukkan ini bukan warisan.

"Saya mewakili perusahaan." kata Arman.

Perusahaan.

Kalimat yang jarang membawa kabar baik bagi rumah-rumah tua.

"Kami sedang membeli beberapa lahan di sekitar sini."

Sunyi.

Satya mulai mengerti arah pembicaraan. Dan ia tidak menyukainya.

---

RENCANA BESAR

Menurut penjelasan Arman, sebuah pengembang properti ingin membeli beberapa rumah di sekitar gang. Bukan satu rumah. Bukan dua. Banyak.

Mereka ingin membangun kompleks pertokoan dan ruko.

Lihat selengkapnya