Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #12

Harga Sebuah Rumah

Setelah kedatangan Arman, rumah nomor 13 berubah.

Tidak secara fisik.

Tidak ada tembok yang berpindah. Tidak ada atap yang runtuh. Tidak ada renovasi mendadak. Bahkan kambing masih melakukan kebodohannya seperti biasa.

Tetapi ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak terlihat.

Semua orang mulai memandang rumah itu berbeda.

Ketika melihat ruang tamu, mereka tidak hanya melihat ruang tamu. Mereka melihat angka.

Ketika melihat dapur, mereka tidak hanya melihat dapur. Mereka melihat kemungkinan.

Ketika melihat halaman, mereka tidak hanya melihat halaman. Mereka melihat rumah lain yang mungkin bisa dibeli.

Dan itu membuat Satya tidak nyaman.

---

KAMBING DAN EKONOMI

Pagi hari. Satya menemukan Bapak sedang membersihkan kandang.

Hal yang jarang terjadi. Biasanya pekerjaan itu diberikan kepada Fajar. Dan biasanya Fajar berhasil melakukannya dengan kualitas yang meragukan.

"Pak."

"Hm?"

"Kalau rumah dijual..."

Bapak tersenyum tipis.

"Kamu juga mikirin itu?"

"Iya."

"Semua orang juga." Satya duduk di dekat kandang.

Kambing itu sedang mengunyah daun dengan tenang. Tidak tahu bahwa nasib sebuah rumah sedang diperdebatkan.

Hidupnya sederhana. Makan. Tidur. Kabur. Makan lagi.

Kadang Satya iri.

---

PERHITUNGAN RIKO

Siang harinya. Riko datang membawa kertas. Dan itu langsung membuat semua orang waspada. Karena Riko hanya membawa kertas dalam dua kondisi.

Pertama. Tagihan.

Kedua. Perhitungan.

Kali ini yang kedua.

"Aku hitung."

"Nah." kata Ibu.

"Kalau rumah dijual..."

"Nah."

"Kita masih bisa beli rumah baru."

"Nah."

"Masih sisa uang."

"Nah."

"Masih bisa renovasi."

"Nah."

"Masih bisa buka usaha kecil."

"Nah."

"Masih bisa..."

"Riko." potong Ibu.

"Apa?"

"Kamu kenapa ngomong kayak iklan investasi?"

Seluruh rumah tertawa.

Tetapi tidak lama. Karena perhitungan Riko masuk akal. Sangat masuk akal.

Dan itulah masalahnya.

---

TUGAS PRESENTASI

Di kampus. Satya mendapat giliran konsultasi. Ia membawa desain rumahnya. Desain yang semakin mirip rumah nomor 13.

Pak Jatmiko mengamati cukup lama.

Tidak bicara. Yang justru lebih menegangkan.

"Hm."

Satya mulai membenci suara itu.

Semua orang sekarang berkata hm.

"Lalu, Pak?"

"Kenapa ada setengah jendela?"

Satya tersenyum. Karena akhirnya ada seseorang yang bertanya.

Satya sudah menyiapkan jawaban. Ia tidak menjelaskan soal ventilasi.

Ia menjelaskan soal Bapak.

Tentang musim kemarau.

Lihat selengkapnya