Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #13

Tawaran Kedua

Ada sebuah kutukan yang diam-diam menempel pada manusia. Ketika tidak punya pilihan, hidup terasa sulit. Ketika punya pilihan, hidup sering terasa lebih sulit.

Seminggu setelah kedatangan kedua Arman, rumah nomor 13 masuk ke fase yang sangat aneh.

Tidak ada yang bertengkar.

Tidak ada yang marah.

Tidak ada yang benar-benar membahas soal penjualan rumah.

Tetapi semua orang memikirkannya.

Setiap hari.

Diam-diam.

---

Ibu mulai melihat iklan rumah. Riko mulai menghitung biaya pindahan. Sari mulai bertanya apakah rumah baru nanti punya kamar sendiri. Yang mengejutkan karena selama ini ia terlihat baik-baik saja tidur di mana saja.

Bahkan Fajar mulai menggambar rumah baru.

Di gambarnya terdapat: tiga lantai, kolam renang, lapangan bola, kandang kambing, kandang dinosaurus.

"Kenapa ada dinosaurus?" tanya Satya.

"Kalau suatu hari butuh."

"Tidak akan."

"Kita tidak pernah tahu masa depan."

Sulit membantah logika yang salah dari begitu banyak arah sekaligus.

---

GANG YANG BERUBAH

Perubahan mulai terlihat di luar rumah.

Suatu sore Satya berjalan ke warung. Dan menemukan papan kecil tertancap di depan rumah Pak Rahman.

DIJUAL

Satya berhenti. Menatap papan itu. Lama.

Rumah Pak Rahman sudah ada sejak ia kecil. Di sanalah ia pernah bermain petak umpet. Di sanalah ia pernah memecahkan kaca jendela menggunakan bola plastik. Di sanalah ia pernah dihukum berdiri karena mencuri mangga.

Kenangan itu tiba-tiba terasa rapuh.

Seolah seseorang sedang menghapus bagian-bagian kecil dari masa kecilnya.

Pak Rahman keluar dari rumah. "Tumben melamun."

Satya tersenyum kecil. "Lihat papan."

"Oh."

Pak Rahman ikut melihat. Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada kesedihan juga. Hanya sesuatu yang sulit dijelaskan.

"Mau pindah ya, Pak?"

"Iya."

"Sedih?"

Pak Rahman tertawa kecil. "Sedikit."

"Lalu kenapa tetap dijual?"

Pria tua itu memandang rumahnya. Karena ternyata beberapa jawaban memang harus dicari dari arah yang sama.

"Kadang kita bukan meninggalkan tempat." katanya pelan.

"Kadang kita cuma melanjutkan perjalanan."

Satya pulang dengan kepala lebih penuh daripada saat berangkat.

---

TAWARAN KETIGA

Hari Sabtu. Arman datang lagi. Kali ini tidak sendiri. Ia membawa seorang pria lain.

Lebih tua.

Lebih rapi.

Lebih mahal.

Bahkan jam tangannya terlihat bisa membeli motor.

"Pak Hadi." Pria itu tersenyum. "Saya Yusuf."

Mereka berjabat tangan. Lalu duduk. Suasana langsung terasa berbeda.

Yusuf tidak banyak bicara. Tetapi setiap kalimatnya terdengar seperti hasil latihan.

"Kami sangat menghargai rumah ini." Kalimat pertama.

"Kami mengerti keputusan seperti ini tidak mudah." Kalimat kedua.

"Kami tidak ingin menekan keluarga." Kalimat ketiga.

Satya mulai curiga. Karena orang yang mengatakan tidak ingin menekan biasanya sedang bersiap menekan dengan sangat sopan.

Lalu angka baru disebutkan.

Dan seluruh rumah kembali sunyi.

Angka itu lebih besar.

Jauh lebih besar.

Bahkan Riko kehilangan kemampuan berbicara selama beberapa detik. Peristiwa yang sangat langka.

----

MALAM YANG PANJANG LAGI

Malam itu rapat keluarga kembali terjadi. Kali ini lebih serius. Karena tawaran baru itu benar-benar mengubah segalanya.

"Aku jujur aja." kata Riko.

"Nah." kata Mas Toni.

"Aku tergoda."

Lihat selengkapnya