Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #14

Surat dari Masa Lalu

Rumah nomor 13 tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan pada pukul dua pagi. Selalu ada suara.

Dengkuran Mas Toni.

Kipas angin tua yang berbunyi seperti sedang menegosiasikan hidupnya.

Kucing liar yang melompat di atap.

Atau kambing yang entah bagaimana selalu menemukan alasan untuk berisik.

Tetapi malam itu berbeda. Satya terbangun karena sesuatu yang tidak biasa.

Suara langkah.

Pelan. Sangat pelan.

Seperti seseorang tidak ingin membangunkan penghuni rumah.

Ia membuka mata. Jam menunjukkan pukul dua lewat tiga belas menit.

Angka yang aneh. Angka yang membuatnya teringat nomor rumah mereka.

Satya bangkit. Keluar kamar.

Lampu ruang tengah masih menyala redup.

Dan di sana. Bapak duduk sendirian. Memegang sebuah kotak kayu tua.

---

KOTAK TUA

Kotak itu tidak besar. Panjangnya sekitar tiga puluh sentimeter. Kayunya sudah kusam. Sudut-sudutnya mulai aus. Tutupnya memiliki goresan-goresan kecil yang menunjukkan usia.

Satya belum pernah melihatnya. Atau mungkin pernah. Tetapi tidak pernah memperhatikannya.

"Bapak belum tidur?"

Bapak menoleh.

Tersenyum kecil. "Kamu juga."

"Aku dengar suara."

"Hm."

Satya duduk di sampingnya. "Apa itu?"

Bapak memandang kotak itu beberapa detik. Seolah sedang memutuskan sesuatu. Lalu menyerah.

"Kenangan."

Jawaban 'paling Bapak' yang pernah ada.

---

ISI KOTAK

Perlahan. Bapak membuka tutupnya. Aroma kayu tua keluar. Aroma waktu.

Di dalamnya ada banyak benda.

Foto-foto lama.

Kwitansi.

Kertas menguning.

Beberapa surat.

Dan benda-benda kecil yang tampaknya tidak berharga. Tetapi disimpan puluhan tahun. Yang biasanya berarti sangat berharga.

Satya mengambil sebuah foto.

Foto hitam putih. Bapak muda. Sangat muda. Kurus. Rambutnya jauh lebih banyak.

"Hah." Bapak tertawa. "Jangan lihat lama-lama."

"Kenapa?"

"Memalukan."

"Justru menarik."

"Enggak."

"Bapak pernah kurus."

"Itu fitnah sejarah."

Satya tertawa. Sudah lama sekali ia tidak melihat Bapak membuka masa lalunya.

---

KWITANSI

Di bawah foto-foto itu ada setumpuk kertas. Kertas yang hampir rapuh. Tulisan tintanya mulai pudar.

Satya membaca salah satunya.

Pembelian semen.

Tahun dua puluh lima tahun lalu.

Jumlahnya kecil. Sangat kecil.

Ia mengambil kertas lain.

Pembelian pasir.

Lalu lagi.

Pembelian batu bata.

Lalu lagi.

Pembelian kayu.

Lihat selengkapnya