Gang Melati selalu punya suara.
Bukan suara besar. Bukan suara yang masuk berita. Bukan suara yang membuat orang berhenti berjalan.
Melainkan suara-suara kecil yang menempel pada kehidupan sehari-hari.
Suara sendok beradu dengan gelas.
Suara ibu-ibu menyapu halaman.
Suara televisi yang volumenya terlalu keras.
Suara anak-anak bermain bola.
Suara pedagang sayur.
Suara tukang bakso.
Suara orang memanggil tetangga tanpa perlu telepon.
Dan suara Pak Darto yang bisa terdengar sampai tiga rumah meski sedang berbicara normal.
Bagi Satya, gang itu seperti organisme hidup.
Tua. Sedikit berantakan. Kadang menyebalkan.
Tetapi hidup.
Namun beberapa minggu setelah tawaran perusahaan datang, sesuatu mulai berubah. Perubahan itu tidak terjadi sekaligus. Tidak dramatis. Tidak ada musik sedih. Tidak ada hujan deras. Hanya perubahan kecil yang datang satu demi satu. Seperti batu bata yang diam-diam dicabut dari sebuah dinding.
Dan Satya mulai menyadarinya pada hari Minggu pagi. Saat ia keluar membeli gorengan.
Rumah Pak Rahman terbuka. Beberapa kardus tersusun di teras. Lemari tua sedang diangkat ke atas pikap. Kasur digulung. Kursi plastik ditumpuk. Rumah itu terlihat kosong.
Aneh sekali. Karena rumah yang sama seminggu lalu terasa penuh.
Penuh suara.
Penuh orang.
Penuh kehidupan.
Sekarang tiba-tiba terlihat seperti cangkang yang ditinggalkan penghuninya.
"Pak Rahman jadi pindah?"tanya Satya.
Pak Rahman yang sedang mengikat tali kardus menoleh. "Iya."
"Secepat ini?"
Pria tua itu tertawa kecil. "Kalau ditunda terus, nggak akan jadi."
Satya mengangguk. Masuk akal.
Tetapi tetap terasa aneh.
---
OPERASI PINDAHAN
Di Indonesia ada aturan tidak tertulis. Kalau ada tetangga pindahan, seluruh lingkungan otomatis ikut pindahan. Entah membantu. Entah menghalangi. Sulit dibedakan.
Siang itu Gang Melati berubah menjadi sarang semut. Orang-orang mondar-mandir membawa barang. Pak Darto memberi instruksi. Padahal bukan rumahnya. Pak Rahman memberi instruksi. Padahal instruksinya kalah keras.
Bu Siti membawa minuman. Anak-anak membawa kekacauan.
Dan Fajar...
...membawa kardus yang salah.
"Kardus siapa itu?" teriak Satya.
"Gak tahu."
"Kalau gak tahu kenapa dibawa?"
"Karena semua orang bawa kardus."
"Itu bukan alasan."
"Ini gotong royong."
Satya memutuskan menyerah.
---
KAMBING DAN PERMUSUHAN BARU
Di tengah suasana pindahan. Terjadi insiden. Yang tentu saja melibatkan kambing. Selalu.
Entah bagaimana. Tidak ada yang melihat awal kejadiannya. Tetapi tiba-tiba terdengar teriakan.
"WOI!"
Semua menoleh.
Pak Darto berlari.
Kambing berlari.
Di mulut kambing terdapat sesuatu berwarna merah.
"ITU TALINYA!" teriak Pak Darto.
Ternyata kambing berhasil memakan sebagian tali pengikat kardus. Kardus yang sedang diangkut. Kardus yang berisi piring.
Lima detik kemudian.
BRAK.
Seluruh gang membeku.
Sunyi.
Kambing berhenti.
Pak Darto berhenti.
Satya berhenti bernapas.
Lalu terdengar suara dari dalam kardus. "Masih utuh!"
Semua menghela napas lega. Kecuali kambing. Yang tampak kecewa karena petualangannya berakhir terlalu cepat.