Bulldozer ternyata tidak datang dengan suara keras.
Tidak ada musik tegang. Tidak ada langit gelap. Tidak ada pertanda dari langit.
Ia datang pada hari Selasa pagi yang sangat biasa.
Hari ketika Ibu sedang merebus sayur. Hari ketika Riko sedang terburu-buru berangkat kerja. Hari ketika Mas Toni masih tidur dengan dedikasi yang layak mendapat penghargaan nasional. Hari ketika Fajar kehilangan buku sekolahnya. Yang ternyata berada di dalam tas sekolahnya sendiri.
Satya sedang menyapu halaman ketika mendengar suara mesin berat dari ujung gang.
GROOOOMMMM...
Suara rendah.
Berat.
Bergetar.
Ia menoleh. Lalu melihatnya.
Bulldozer kuning.
Besar. Sangat besar.
Berjalan perlahan memasuki area kosong dekat rumah Pak Rahman.
Untuk sesaat. Seluruh gang seperti berhenti bernapas. Karena selama ini perubahan hanya berupa kata-kata.
Rencana.
Papan dijual.
Pembicaraan.
Dokumen.
Kini perubahan memiliki roda rantai baja. Dan mesin.
---
ANAK-ANAK DAN KEGEMBIRAAN YANG SALAH WAKTU
Reaksi pertama justru datang dari anak-anak.
"WOOOOWWW!" teriak Lulu.
"GEDE BANGET!" teriak Mika.
"AKU MAU NAIK!" teriak Fajar.
"TIDAK!" teriak seluruh orang dewasa secara bersamaan.
Fajar tampak kecewa. Menurutnya bulldozer adalah kendaraan paling keren yang pernah diciptakan manusia.
Menurut orang dewasa, bulldozer adalah simbol masalah. Perbedaan perspektif usia memang luar biasa.
---
PAK DARTO MENDADAK AHLI ALAT BERAT
Setengah jam kemudian. Pak Darto sudah berdiri dekat proyek. Tangan di belakang punggung. Wajah serius. Seolah beliau pemilik perusahaan konstruksi. Padahal tidak.
"Mesinnya enam silinder." katanya.
"Kok tahu?" tanya Satya.
"Gak tahu."
"Lalu?"
"Nebak."
Satya mengangguk. Itu memang lebih masuk akal.
---
RUMAH PAK RAHMAN
Menjelang siang. Pekerja mulai berdatangan. Pagar seng dipasang. Material diturunkan. Alat-alat dibawa masuk. Dan rumah Pak Rahman yang kosong mulai terlihat seperti pasien yang sedang menunggu operasi.
Tidak ada yang menyentuh bangunan itu hari ini. Tetapi semua orang tahu waktunya akan datang. Perasaan itulah yang membuat suasana gang terasa berbeda.
---
MAS TONI DAN FILSAFAT ANEH
Sore hari. Mas Toni akhirnya bangun. Ia keluar rumah. Menguap. Melihat bulldozer. Lalu kembali masuk. Lima menit kemudian keluar lagi.
"Mas."kata Satya.
"Hm?"
"Itu reaksi apa?"
"Aku kira mimpi."
"Bukan."
"Oh."
Mas Toni memandang alat berat itu cukup lama. Lalu berkata: "Aneh ya."
"Apa?"
"Dulu waktu kecil aku pengen lihat bulldozer."
"Iya?"
"Sekarang pas lihat malah sedih."
Satya diam. Karena itu juga yang ia rasakan.
---
IBU DAN DAPUR
Malam harinya. Satya menemukan Ibu sedang membereskan lemari dapur. Tidak biasa. Karena kegiatan itu biasanya hanya dilakukan menjelang Lebaran. Atau ketika Ibu sedang kesal pada sesuatu.
"Kok dibongkar?"
"Iseng."
Jawaban yang langsung membuat Satya tahu bahwa itu bukan iseng.
Ibu mengeluarkan satu per satu piring lama.
Gelas lama.
Toples lama.