Jika ada satu hal yang lebih berbahaya daripada kambing lepas di rumah nomor 13, itu adalah rapat keluarga. Karena kambing biasanya hanya merusak tanaman. Sedangkan rapat keluarga bisa merusak suasana hati.
Malam itu hujan turun tipis. Bukan hujan deras. Hanya gerimis yang membuat udara terasa dingin.
Lampu ruang tengah menyala kuning temaram. Televisi dimatikan. Sesuatu yang langsung membuat semua orang curiga.
"Kenapa TV dimatiin?" tanya Dinda.
"Rapat." jawab Ibu.
Dinda tampak seperti seseorang yang baru menerima vonis. "Kita bangkrut?"
"Bukan."
"Kambing hilang?" tanya Fajar.
"Bukan."
"Kambing punya anak?" tanya Lulu.
"Bukan."
"Kalau begitu kenapa rapat?" tanya Tia.
Tidak ada yang menjawab. Karena semua sudah tahu.
Tentang rumah.
Tentang tawaran itu.
Tentang keputusan yang semakin dekat.
---
RUANG TENGAH YANG PENUH
Ruang tengah malam itu terasa lebih sempit dari biasanya. Bapak duduk di kursi kayu dekat jendela. Ibu di sampingnya. Riko bersandar di lemari. Tia duduk di lantai. Mas Toni setengah rebah di tikar. Lulu dan Mika duduk berdekatan. Mbak Ita mangku bayinya berhimpitan dengan Sari dan Dinda. Fajar duduk di dekat kipas angin. Entah kenapa.
Satya memperhatikan semuanya. Ini pertama kalinya seluruh keluarga berkumpul untuk membahas sesuatu sebesar ini. Biasanya keputusan diambil oleh Bapak dan Ibu. Anak-anak hanya diberi tahu.
Tetapi kali ini berbeda. Karena rumah itu milik semua orang.
---
BAPAK MEMBUKA RAPAT
Bapak berdeham. Semua langsung diam. Bahkan Fajar dan bayi. Yang lebih mengejutkan daripada hujan salju di Jakarta.
"Kita perlu bicara." Kalimat pembuka paling menegangkan dalam sejarah keluarga. "Tentang rumah."
Sunyi.
Suara hujan terdengar dari luar. Angin masuk dari setengah jendela. Seolah rumah itu sendiri sedang mendengarkan.
---
RIKO BICARA PERTAMA
Tentu saja. Karena Riko selalu bicara pertama. "Aku jujur aja."
"Nah." gumam Mas Toni.
"Aku masih melihat banyak keuntungan kalau kita pindah."
Tidak ada yang memotong. "Kamar lebih cukup."
"Iya."
"Rumah lebih aman."
"Iya."
"Adik-adik punya ruang belajar."
"Iya."
"Biaya perbaikan juga berkurang."
Satya mengangguk. Semua itu benar. Tidak ada yang salah. Dan justru itulah yang membuat diskusi sulit.
---
TIA AKHIRNYA BERSUARA
Biasanya Tia lebih suka mendengarkan. Tetapi malam itu berbeda. "Aku setuju sebagian."
Semua menoleh.
Karena Tia jarang bicara saat rapat. "Aku pengen kamar sendiri."
Mas Toni tertawa. "Akhirnya ada yang jujur."
"Memang." Tia melipat tangan. "Aku capek berbagi ruang terus."
"Itu masuk akal." kata Ibu.
"Tapi..." Tia berhenti.
Untuk beberapa detik. "Aku juga nggak pengen pindah."
Sunyi.
Karena semua orang mengerti perasaan itu. Dua hal yang bertabrakan.Dua hal yang sama-sama benar.
---
MBAK ITA DAN PIDATO MENGEJUTKAN
Lalu sesuatu yang tidak pernah diprediksi siapa pun terjadi. Mbak Ita duduk tegak. Benar-benar tegak.
Seisi rumah langsung waspada. Karena itu pertanda langka.
Biasanya kalau Mbak Ita duduk setegak itu, ada dua kemungkinan.
Pertama. Ia punya ide.
Kedua. Tidak ada. Karena jarang punya ide.
"Aku mau ngomong."
"Silakan." kata Bapak.
Mbak Ita menghela napas.
"Pindah itu enak."
"Iya."
"Kamar lebih besar juga enak."
"Iya."