Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #18

Tawaran Terakhir

Rumah nomor 13 sudah tua. Semua orang tahu itu.

Catnya mulai pudar. Sebagian kusen mulai lapuk. Atap belakang pernah bocor tiga kali dalam satu musim hujan. Lantai dapur memiliki retakan yang sudah begitu lama hingga seluruh keluarga menganggapnya bagian resmi dari dekorasi.

Dan setengah jendela itu...

Ventilasi miring yang lahir dari keberanian berlebih dan perhitungan yang kurang.

Masih bertahan.

Masih bekerja.

Masih menjadi bahan lelucon keluarga.

Tetapi usia sebuah rumah sebenarnya tidak dihitung dari retaknya tembok. Tidak dari gentengnya. Tidak dari kusennya. Usia rumah dihitung dari kenangan yang disimpannya.

Dan rumah nomor 13 menyimpan terlalu banyak. Mungkin itulah sebabnya minggu itu terasa lebih berat dari biasanya. Karena semua orang tahu. Sesuatu akan segera terjadi.

---

PAGI YANG TERLALU TENANG

Hari Minggu. Tidak ada yang terburu-buru.

Ibu memasak lontong sayur. Aroma santan memenuhi rumah. Mas Toni membaca koran bekas tiga hari lalu. Menurutnya berita lama lebih tenang.

Riko mencuci motor. Fajar membantu. Yang berarti sebenarnya mengganggu. Lulu dan Mika bermain ular tangga. Dan bertengkar karena aturan yang mereka buat sendiri.

Satya duduk di teras. Memperhatikan gang. Kini ada tiga rumah kosong. Rumah Pak Rahman. Rumah Bu Siti. Rumah Pak Hendra. Tiga rumah yang dulu selalu hidup. Kini berdiri diam. Seperti gigi yang tanggal dari sebuah senyum.

Gang Melati masih sama. Tetapi juga tidak sama. Dan perubahan itu semakin sulit diabaikan.

---

TELEPON

Menjelang siang. Telepon Bapak berbunyi. Semua orang sedang makan. Bapak melihat layar. Lalu terdiam beberapa detik.

Satya melihat perubahan kecil di wajahnya. Perubahan yang hanya bisa dibaca oleh orang yang mengenalnya puluhan tahun.

"Itu Arman?" tanya Ibu.

Bapak mengangguk. Tidak ada yang bicara lagi. Suara sendok perlahan berhenti. Suara televisi terasa jauh. Bahkan Fajar berhenti makan. Peristiwa yang hampir tidak pernah terjadi.

Bapak menerima panggilan itu. Mendengarkan. Sesekali menjawab singkat.

"Iya."

"Hm."

"Baik."

"Nanti saya pikirkan."

Telepon ditutup.

Sunyi.

Seisi rumah menunggu.

"Ada apa?" tanya Ibu.

Bapak menghela napas panjang. "Mereka mau datang minggu depan."

"Untuk apa?"

"Tawaran terakhir."

Kalimat itu jatuh di ruang tengah seperti batu ke dalam sumur.

Tidak keras.

Tetapi dalam.

Sangat dalam.

TAWARAN TERAKHIR

Ternyata dua kata itu bisa mengubah suasana rumah.

Tawaran terakhir. Artinya keputusan sudah dekat. Artinya tidak bisa terus ditunda. Artinya semua orang harus mulai jujur kepada dirinya sendiri. Dan justru itulah yang sulit. Karena semakin dekat hari keputusan. Semakin kabur jawabannya.

---

SATYA DAN KAMPUS

Hari Senin. Satya datang lebih awal. Ia duduk sendirian di studio. Melihat desain rumahnya. Desain yang kini hampir sepenuhnya berubah.

Dulu ia menggambar bangunan. Kini ia menggambar kehidupan.

Di atas meja terdapat maket sederhana.

Ruang tengah.

Dapur.

Teras.

Setengah jendela.

Pak Jatmiko datang. Berhenti di samping meja. Tidak langsung bicara. Kebiasaan yang menjengkelkan. Tetapi kini mulai dipahami Satya.

"Kamu kelihatan capek."

"Sedikit."

"Rumah?"

Satya mengangguk.

Pak Jatmiko melihat maket. Lalu berkata: "Kadang arsitek punya masalah."

"Apa?"

"Kita terlalu sibuk menyelamatkan bangunan."

Satya mengerutkan dahi. "Maksudnya?"

"Kita lupa menyelamatkan manusia yang tinggal di dalamnya."

Kalimat itu menempel di kepala Satya sepanjang hari.

---

RIKO

Lihat selengkapnya