Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #19

Keputusan Rumah Nomor 13

Ada banyak jenis hari dalam hidup manusia.

Ada hari biasa. Ada hari menyenangkan. Ada hari menyebalkan. Ada hari yang terlupakan bahkan sebelum matahari terbenam.

Dan ada hari yang kelak akan dikenang bertahun-tahun kemudian.

Hari ketika seseorang lulus.

Hari ketika seseorang menikah.

Hari ketika seseorang kehilangan sesuatu.

Hari ketika seseorang menemukan sesuatu.

Hari itu termasuk salah satunya.

Sejak pagi suasana rumah nomor 13 terasa berbeda. Tidak ada yang mengatakannya. Tetapi semua orang merasakannya.

Ibu memasak terlalu banyak. Tanda gugup.

Bapak membersihkan halaman dua kali. Tanda lebih gugup.

Riko memeriksa ulang angka-angka yang sudah diperiksa tiga puluh kali. Tanda sangat gugup.

Mas Toni tidur lebih lama. Itu bukan tanda apa-apa. Memang kebiasaannya.

---

MENUNGGU

Menunggu ternyata pekerjaan yang melelahkan.

Jam sembilan. Belum datang.

Jam sepuluh. Belum datang.

Jam sebelas.Belum datang.

Jam sebelas lewat tiga puluh.

Arman muncul. Sendirian. Membawa map tipis. Dan wajah yang jauh lebih serius dari biasanya.

"Permisi."

"Masuk." kata Bapak.

Ruang tengah langsung terasa sempit. Bukan karena ukuran. Karena suasana.

---

PERTEMUAN TERAKHIR

Arman duduk. Tidak ada basa-basi panjang. Tidak ada presentasi. Tidak ada angka baru. Semua angka sudah diketahui.

Kini tinggal keputusan.

"Saya tidak akan lama." katanya.

"Saya hanya ingin memastikan keluarga sudah mempertimbangkan semuanya."

Bapak mengangguk. "Kami sudah."

Sunyi.

Arman melihat sekeliling rumah.

Dinding.

Lemari.

Foto keluarga.

Setengah jendela.

Lalu tersenyum. "Saya iri sedikit."

Semua menoleh.

"Kenapa?" tanya Ibu.

"Karena rumah ini terasa hidup."

Untuk beberapa detik. Tidak ada yang menjawab. Karena itu mungkin pujian terbaik yang pernah diterima rumah nomor 13.

---

KEPUTUSAN

Akhirnya. Momen itu datang. Arman membuka map. Mengeluarkan dokumen. Meletakkannya di meja.

Tidak ada yang bergerak.

Bapak menatap dokumen itu.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian menarik napas. Dan berkata: "Kami sudah memutuskan."

Jantung Satya berdetak lebih cepat. Begitu juga semua orang. Bahkan Fajar tampak serius. Fenomena langka nomor dua setelah Mas Toni bangun subuh.

Bapak membuka mulut.

Tetapi sebelum kata pertama keluar...

BRAAAAKKK!

Suara keras dari belakang rumah.

Seluruh keluarga melompat. Ibu menjerit. Lulu hampir menjatuhkan gelas. Mas Toni bangun total untuk pertama kalinya tahun ini.

"APA ITU?!" teriak Riko.

Semua berlari ke belakang rumah.

Termasuk Arman.

---

Di halaman belakang. Mereka menemukan kambing. Berdiri dengan wajah polos. Di samping jemuran yang roboh. Tali jemuran melilit tanduknya. Beberapa celana dalam berkibar seperti bendera perdamaian.

"KAMU LAGI!" teriak seluruh keluarga hampir bersamaan.

Kambing mengembik. Tidak merasa bersalah sedikit pun.

Arman sampai tertawa. Tertawa sungguhan. Bukan senyum sopan. Tertawa sampai membungkuk.

Lihat selengkapnya