Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #20

Rumah yang Memilih Bertahan

Keputusan besar ternyata tidak selalu menghasilkan perubahan besar. Kadang justru sebaliknya. Kadang setelah keputusan paling penting dalam hidup dibuat, yang terjadi hanyalah...

hari Senin.

Itulah yang dirasakan Satya tiga hari setelah keluarga memutuskan tidak menjual rumah nomor 13.

Matahari tetap terbit.

Ibu tetap memasak.

Riko tetap berangkat kerja.

Mas Toni tetap bangun kesiangan.

Fajar tetap membuat masalah.

Tidak ada musik kemenangan. Tidak ada pelangi. Tidak ada merpati putih terbang melintasi halaman.

Hidup tetap berjalan.

Namun ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak terlihat.

Rumah terasa lebih ringan.

Seolah selama berbulan-bulan rumah nomor 13 menahan napas.

Dan kini akhirnya bisa mengembuskannya.

---

PAGI YANG BERBEDA

Hari itu Satya terbangun lebih awal. Jam empat lewat tiga puluh. Sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya alarm harus bernegosiasi cukup panjang dengannya.

Ia keluar kamar. Langit masih gelap. Udara pagi membawa aroma tanah basah. Semalam hujan turun cukup lama.

Gang Melati tampak tenang. Lampu-lampu jalan masih menyala. Daun mangga berkilau oleh sisa air hujan. Dari kejauhan terdengar suara azan.

Dan setelah sekian lama...

Satya merasa damai. Benar-benar damai.

---

BAPAK DAN CATATAN TUA

Di ruang tengah. Bapak sudah bangun. Seperti biasa. Pulang dari langgar. Duduk di kursi dekat setengah jendela. Memegang buku tua.

"Ngapain, Pak?"

"Menghitung."

Satya langsung waspada.

"Jangan bilang rumah mau dijual lagi."

Bapak tertawa. "Bukan."

"Lalu?"

"Bapak lagi lihat biaya renovasi."

"Renovasi?"

"Iya."

Satya mengerjap.

Renovasi.

Kata itu terasa baru. Selama berbulan-bulan mereka hanya berbicara tentang menjual atau tidak menjual. Tidak pernah benar-benar membahas kemungkinan ketiga.

Memperbaikinya.

---

IDE GILA

Saat sarapan. Bapak mengumumkannya. "Kita renovasi."

Sendok Fajar jatuh. Mas Toni tersedak teh. Riko berhenti mengunyah. Bahkan kambing yang berada di luar pagar tampak terkejut.

"Renovasi?"

"Iya."

"Yang mana?" tanya Tia.

Bapak tersenyum. "Sedikit demi sedikit."

"Sedikit itu seberapa sedikit?" tanya Riko. "Karena definisi Bapak soal sedikit cukup berbahaya."

Seluruh keluarga tertawa.

---

PERANG PENDAPAT

Dalam waktu lima menit. Rapat keluarga dadakan dimulai. Dan langsung kacau.

"Aku mau kamar lebih besar." kata Tia.

"Aku mau dapur diperbaiki." kata Ibu.

"Aku mau kamar mandi baru." kata Lulu.

"Aku mau garasi." kata Riko.

"Aku mau kasur baru." kata Mas Toni.

"Itu bukan renovasi." kata Satya.

"Itu kebutuhan kemanusiaan."

"Aku mau kolam renang." kata Fajar.

"TIDAK." teriak semua orang.

---

SATYA MULAI MELIHAT

Malam itu. Satya berjalan mengelilingi rumah. Benar-benar memperhatikan. Sudah lama sekali ia tinggal di sini. Namun belum pernah melihat rumah ini sebagai seorang calon arsitek.

Biasanya ia melihatnya sebagai anak. Kini ia mencoba melihatnya sebagai bangunan. Dan ia menemukan banyak hal.

Atap belakang perlu diperbaiki.

Saluran air perlu diganti.

Ventilasi perlu ditambah.

Pencahayaan perlu diperbaiki.

Lihat selengkapnya