Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #21

Renovasi Pertama

Ada dua jenis renovasi.

Renovasi versi televisi.

Dan renovasi versi kenyataan.

Dalam televisi, renovasi selalu terlihat indah. Orang-orang tersenyum. Cat baru muncul begitu saja. Musik ceria diputar. Tiga hari kemudian rumah berubah menjadi istana.

Dalam kenyataan...

...ada debu.

Banyak debu.

Debu dalam jumlah yang membuat manusia mempertanyakan konsep keberadaan paru-paru.

Rumah nomor 13 mulai memahami perbedaan itu pada hari pertama renovasi.

---

RAPAT BESAR PEMILIHAN PROYEK

Karena dana terbatas, mereka tidak bisa memperbaiki semuanya sekaligus. Maka keluarga mengadakan rapat.

Kesalahan pertama.

Karena jika sembilan anak + 1 menantu + 2 cucu + 1 kambing diberi hak suara, hasilnya sering lebih dekat ke acara komedi daripada demokrasi.

"Kita mulai dari atap." kata Bapak.

"Setuju." kata Ibu.

"Setuju." kata Riko.

"Setuju." kata Satya.

"Aku pilih kolam renang." kata Fajar.

Sunyi.

"Fajar." kata Tia.

"Iya?"

"Kita sedang membahas atap."

"Kolam renang juga ada hubungannya dengan air."

Logika yang begitu salah sampai sulit dibantah.

---

PEKERJA DATANG

Tiga tukang datang pada Senin pagi. Pak Ujang. Pak Maman. Dan Pak Rudi.

Mereka baru lima menit berada di rumah ketika sudah memahami bahwa rumah nomor 13 bukan rumah normal.

Hal itu terjadi saat Pak Maman bertanya: "Pak, kambingnya punya kandang?"

Dan Fajar menjawab: "Punya."

"Lalu kenapa ada di atas meja?"

Semua menoleh.

Kambing memang berada di atas meja teras. Tidak ada yang tahu bagaimana caranya. Tidak ada yang tahu sejak kapan. Bahkan kambing itu sendiri tampak terkejut.

---

MISTERI FISIKA

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan ilmiah. Bagaimana seekor kambing bisa naik ke atas meja setinggi itu?

Satya mencoba menjelaskan.

Riko mencoba menghitung.

Mas Toni membuat teori konspirasi. Menurut Mas Toni, kambing sebenarnya bisa terbang. "Tapi hanya saat tidak ada manusia melihat."

"Itu bukan teori." kata Satya. "Itu kartun."

---

PEMBONGKARAN ATAP

Menjelang siang. Atap belakang mulai dibongkar.

Suara palu.

Suara gergaji.

Suara genteng dipindahkan.

Rumah nomor 13 terdengar seperti sedang operasi.

Ibu mondar-mandir. Karena setiap ibu di Indonesia memiliki kemampuan khusus. Mereka bisa mengkhawatirkan sesuatu dalam radius tiga kilometer.

"Pelan-pelan ya, Pak."

"Iya, Bu."

"Hati-hati."

"Iya, Bu."

"Jangan sampai rusak."

"Iya, Bu."

Lima menit kemudian. "Hati-hati ya, Pak."

Lihat selengkapnya