Rumah 13,5 Jendela

Tethy Ezokanzo
Chapter #26

Konser Terakhir Meteor Malam

Ada beberapa hal yang seharusnya dibiarkan menjadi kenangan.

Misalnya:

Potongan rambut tahun delapan puluhan.

Celana metalik.

Jaket ungu milik Bapak.

Dan band bernama Meteor Malam.

Sayangnya...

Pak Darto tidak setuju.

---

AWAL BENCANA

Semuanya dimulai saat makan malam. Pak Suryo sedang bercerita. Bapak sedang berusaha mengalihkan pembicaraan dari foto-foto memalukan.

Ketika Pak Darto tiba-tiba berkata: "Kalian harus manggung lagi."

Sunyi.

Sendok berhenti.

Gelas berhenti.

Bahkan kipas angin terdengar berpikir ulang.

"Maksudnya?" tanya Bapak.

"Meteor Malam."

"Tidak." jawab Bapak cepat.

"Kenapa?"

"Karena kami sudah tua."

Pak Suryo mengangguk. "Sangat tua."

"Terima kasih."

---

IDE MENYEBAR

Masalahnya. Ide buruk punya kemampuan berkembang biak.

Lima menit kemudian. Fajar setuju.

Sepuluh menit kemudian. Lulu setuju.

Lima belas menit kemudian. Riko mulai tertarik.

Dua puluh menit kemudian. Satya diam. Yang berarti ia juga mulai tertarik.

Dan ketika Ibu tersenyum sambil berkata: "Kayaknya seru."

Bapak tahu. Pertempuran sudah kalah.

---

PENYELIDIKAN

Ternyata. Masih ada alat musik lama. Tersimpan di gudang.

Tentu saja.

Karena rumah nomor 13 tampaknya menyimpan semua benda yang pernah ada sejak zaman dinosaurus.

Mereka menemukan:

Sebuah gitar.

Sebuah bass.

Sebuah mikrofon tua.

Dan sebuah amplifier.

Yang tampak seperti pernah selamat dari perang.

---

TES PERTAMA

Malam itu. Bapak memegang gitar. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Pak Suryo duduk di sebelahnya. Agak gugup. Agak malu. Sangat malu sebenarnya.

"Masih ingat lagunya?" tanya Satya.

"Sedikit."

"Sedikit itu berapa persen?"

"Empat belas."

"Itu angka yang aneh."

---

SUARA PERTAMA

Bapak memetik gitar.

Ting.

Masih bagus.

Pak Suryo mulai mengikuti. Lalu mereka memainkan lagu lama.

Lihat selengkapnya