Ada rumah yang besar. Ada rumah yang mewah. Ada rumah yang terkenal. Ada rumah yang muncul di majalah. Ada rumah yang menang penghargaan.
Dan ada rumah nomor 13.
Rumah yang pernah hampir dijual.
Rumah yang pernah bocor.
Rumah yang menyimpan kelereng sebagai "harta karun."
Rumah yang memiliki ventilasi setengah jadi.
Rumah yang penghuninya menganggap kambing sebagai anggota keluarga tidak resmi.
Rumah yang berhasil menghidupkan kembali band pensiunan demi menghibur satu kampung.
Rumah yang tidak sempurna. Tetapi dicintai. Sangat dicintai.
---
ENAM BULAN KEMUDIAN
Waktu berjalan. Seperti biasa. Diam-diam. Tanpa suara. Tanpa izin.
Enam bulan berlalu sejak konser terakhir Meteor Malam.
Renovasi sudah selesai.
Benar-benar selesai.
Akhirnya di rumah nomor 13...
Tidak ada tukang.
Tidak ada semen.
Tidak ada suara bor.
Tidak ada Pak Ujang berteriak: "Pak, kabelnya mana?"
Rumah tampak segar. Tetapi tetap sama. Yang berubah hanya yang perlu berubah.
---
RUANG TENGAH
Satya berdiri di ruang tengah. Ruang favorit keluarga. Kini lebih terang. Lebih rapi. Lebih nyaman. Namun sofa lama masih ada. Lemari tua masih ada.
Foto keluarga masih memenuhi dinding.
Dan setengah jendela...
Masih bertahan.
Karena seluruh keluarga sepakat.
Beberapa kesalahan terlalu berharga untuk diperbaiki.
---
SATYA
Satya kini hampir lulus. Proyek akhirnya selesai. Dan dosennya menyukai konsepnya. Sangat menyukai.
Karena proyek itu bukan sekadar desain rumah. Melainkan desain tentang kehidupan.
Tentang bagaimana bangunan menyimpan cerita.
Tentang bagaimana rumah membentuk manusia.
Dan diam-diam.
Tentang rumah nomor 13.
Meski namanya tidak pernah disebut.
---
RIKO
Riko tetap menjadi Riko. Tetapi sedikit berubah.
Ia kini tidak lagi menghitung nilai rumah.
Ia menghitung biaya perawatan rumah.
Kemajuan yang cukup besar.
Meski sesekali masih menghitung harga tanah sekitar.
Hanya untuk olahraga mental.