Rumah

lidia afrianti
Chapter #2

Ranah

Sekarang usiaku sudah 18 tahun, masa di mana aku belajar mengambil keputusan untuk pertama kalinya dalam menentukan jalan hidupku.

Aku terbiasa menerima semua keputusan keluarga. Rasa canggung dan penuh ketakutan. Dalam fikiranku, suara berisik seperti mengisi setiap inci kepala. Apakah ini benar, apakah yang aku lakukan salah. Aku butuh seseorang untuk meyakinkan pilihanku tentunya ibu.

Wali kelasku meminta kami mengisi formulir jurusan kuliah. Saat menerima lembaran kertas itu rasanya semua impianku terasa semakin dekat. Tapi apakah ibu dan ayah akan setuju kalau aku kuliah, sementara kak affan masih menempuh pendidikan tingginya.

Pulang sekolah, aku menemui ibu yang tengah menyiapkan bumbu-bumbu untuk persiapan jualan besok. Aku duduk di sebelah ibu sambil mempersiapkan kata-kata.

”Buk… hari ini wali kelas memberikan ini.” Aku menyodorkan kertas yang masih rapi kulipat di dalam buku catatanku.

”Kertas apa itu…”, ibu membacanya sekilas dan senyum seketika terbit dari bibirnya.

”Baiklah, kamu mau kuliah dimana dan jurusan apa?”

”Belum tahu buk, tapi biayanya gimana buk?”

”Kamu tenang aja, ibu usahain. Tapi kamu benaran kuliah kan?”

”Beneran buk, tapi kalau rasanya berat. Ranah nggak apa-apa mundur dulu sampai kak affan selesai.”

”Nggak bisa ran, kalau kamu nunggu affan tamat. Umur kamu makin sulit buat lanjut kuliah.”

”Kalau gitu ranah kerja aja, biar ibu nggak capek.”

“Kapan ibu bilang capek. Ibu ingin kamu nggak bekerja seperti ini, sama seperti ibu.” Ucap ibu sambil menggenggam tanganku, seolah meyakinkan bahwa ibu baik-baik saja.

Malamnya selesai makan malam ibu mengajak ayah bicara di ruang tamu. Aku mengikuti mereka diam-diam.

”Pak, Ranah udah semester akhir. Jadi, dia mau kuliah.”

”Ya, gimana ya. Affan juga masih kuliah, kebutuhannya banyak. Gimana kalau ranah kita tunda dulu.”

Lihat selengkapnya