Rumah

lidia afrianti
Chapter #3

Ibu

Semua teman-teman ranah sudah berkumpul di depan ruang guru menunggu pengumuman siswa yang lulus jalur undangan perguruan tinggi. Semua wajah tampak tegang dan cemas. Ranah sangat antusias menunggu begitu juga yana. Dari tadi tangannya sudah di remas-remas oleh tangan ranah yang berkeringat.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, seorang guru berjalan menuju papan pengumuman dan menempelkan lembaran nama siswa yang lulus.

Yana berlari lebih dulu dan mencari namanya. Teriakan yana membuat ranah kaget. Tapi ranah tak kunjung mendekat ke papan pengumuman. Yana mencari nama ranah, dia tahu pasti ranah tak berani melihat hasilnya.

Ranah melihat ekspresi yana yang tampak gugup untuk memberitahu.

“Ran… kamu lulus !!” Yana melompat girang dan memeluk ranah.

Sebelum pulang, mereka semua merayakan dengan foto bersama. Ranah menemui guru yang sudah berjasa untuk mereka selama masa sekolah.

***

Ranah sudah tidak sabar meluapkan kebahagiaannya pada sang ibu yang selalu mendukungnya. Sesampainya di rumah, dia terlebih dahulu mencari sosok itu ke dapur. Namun tak ditemui keberadaannya. Dia berjalan menuju kamar ibu dan ayahnya juga tak ada.

Ranah tidak sering masuk ke kamar ibunya. Karena hampir setiap mencari, dia menemukan sosok ibunya di dapur.

Beberapa buku dia temukan di dekat meja ibu menaruh bedak kelly dan beberapa minyak urut.

Buku yang cukup unik dengan sampul berwarna coklat tua dan sebuah tali yang mengikatnya. Senyumku seketika terbit, apakah ada cerita menarik di dalamnya.

Di halaman pertama, aku menemukan foto ibu berkaryawisata bersama teman-temannya. Benar kata orang-orang, aku persis seperti ibu masih muda. Ibu tampak begitu bahagia, senyum tanpa paksaan atau lelah.

Seperti menemukan harta karun, tak terasa sudah satu jam aku duduk membaca buku catatan ibu.

Perempuan yang ku kira hidup sejak dulu merawatku, mencintaiku dan mengusahakan semuanya untuk keluarga. Aku kira sudah mengenalnya dengan baik. Ternyata banyak mimpi yang ia tunda, banyak beban yang dia tahan. Banyak luka yang ia sembunyikan dari semua orang.

”Kamu sedang apa ran?” Seketika ranah yang hampir saja menangis, berdiri dan menaruh buku kembali ke tempatnya.

”Ayah…”

”Ada apa ran?”

”Oh… aku mencari ibu, tapi tidak menemukannya di dapur.”

”Ibumu mengantar pesanan ke rumah Pak eko.” Ucap ayah sambil menaruh tas kecilnya di gantungan belakang pintu.

Terlintas dalam benakku, apakah ayah tahu sepenuhnya tentang kehidupan ibu.

Aku berjalan ke luar untuk mengganti pakaian dan bergegas mencuci piring yang menumpuk. Rasanya membaca buku itu, membuatku merasakan sesak yang luar biasa di rumah ini. Rasanya ada yang menumpuk di dadaku.

Ranah mengitari pandangannya ke seluruh sisi dapur. Tempat yang menghabiskan separuh usia ibu di sini. Dapur yang masih memakai tungku kayu, ada kompor gas tapi ibu bilang ada beberapa masakan yang lebih enak di masak dengan tungku kayu.

Di sudut dapur, tampak tumpukkan beberapa piring. Kalau yang makan cuma aku, ibu, nenek dan ayah rasanya tidak akan sebanyak itu. Dulu rasanya aku tidak mempermasalahkan berapa banyak yang harus ku cuci, tapi menemukan sebuah rahasia rasanya membuat fikiranku menjadi jahat.

”Ran…” panggil ibu.

”Gimana hasilnya?” Tanya ibu sambil menaruh beberapa barang belanjaan.

Ranah bergegas mencuci tangannya yang masih dipenuhi sabun cuci. Dia memeluk ibunya, pelukan antara rasa bahagia dan iba. Masih tentang buku yang ia baca tadi.

”Ranah lulus buk.”

”Terus kapan kamu akan mengurus keperluan kuliahmu?”

Lihat selengkapnya