Rumah

lidia afrianti
Chapter #5

Rumah?

Malam harinya tidur ranah tak setenang biasanya. Air matanya terus mengalir, ada gumpalan di tenggorokannya. Haya yang tidur sekamar dengan ranah tak menyadari apa yang terjadi padanya.

Jam sudah berputar terus menuju angka sebelas. Rasanya tak sanggup lagi mendiamkan apa yang suami tante dian lakukan padanya tadi. Ranah bangun dengan kepala yang masih sedikit sakit, matanya merah dan langkahnya sempoyongan. Dia terus berjalan menuju dapur dimana ibunya masih bangun mempersiapkan jualan untuk esok hari.

“Ibuk..,” ucap ranah.

”Kamu belum tidur nak?”

Ranah memeluk ibunya yang masih sibuk memotong bahan-bahan jualan.

“Kenapa?” Ibu membalikan tubuhnya dan mendapati wajah ranah yang tampak muram dan air mata yang tak henti mengalir.

”Ada apa?” Ibu menghentikan kegiatannya dan mengajak ranah duduk.

”Tadi..,”

”Kenapa?”

”Kamu kenapa ran,” tanya tante dian yang terbangun mengambil air.

”Tadi om danu meluk ranah buk,” seketika ranah menumpahkan air matanya, baginya ini pertama kalinya mengatakan sesuatu tentang kejujuran itu sangat menyakitkan.

Ibu cukup lama terdiam, sedangkan tante dian tersedak dan menjatuhkan gelas yang dia genggam.

“Mungkin om danu nggak sengaja ran. Dia kira itu tante.”

Ranah spontan berdiri, tangisnya seketika berhenti. Wajahnya tak lagi sendu tapi berganti kecewa.

”Buk…,” ucap ranah dengan nada bergetar.

”Kamu terlalu membesarkan semuanya ranah. Mungkin benar kata tante ranah, om danu nggak sengaja.”

Seketika ranah tertawa seperti seseorang yang baru saja mendengar lelucon. Dia menggigit kukunya dan sesekali memperbaiki rambut halusnya yang terus menyapu wajahnya.

”Ibuk tahu, betapa takutnya aku. Tangannya melingkar buk, disini,” ucap ranah sambil mengulang kejadian yang sama.

Ayah ranah yang baru saja kembali dari bekerja memasang wajah bingung melihat ranah.

”Kamu kenapa,”

Lihat selengkapnya