Tak beda dengan ranah, ibunya tak kunjung bisa menutup matanya. Dia masih duduk di meja tempat dia biasa bersolek dan menulis.
Baginya peristiwa itu sangat membuatnya bingung. Tak pernah di posisi itu atau bahkan menghadapi hal yang sama. Dia hanya ingat pesan ibunya, menjaga nama baik keluarga. Dan bagi ingatan ibu, apa yang ranah alami adalah aib yang akan mempengaruhi nama baik keluarga yang telah di jaga.
Hari ini pertama kalinya, ia melihat ranah berbeda dari biasanya. Ranah yang tak pernah meluapkan kemarahannya sebesar itu, seperti bom waktu yang meledak dan menyambar ke segala arah.
“Aku harus gimana pak?” Ucap Ratih pada suaminya.
”Mau bagaimana lagi, ranah sudah besar. Kamu itu terlalu memanjakan dia jadinya begini.”
Bukannya mendapat solusi, ratih malah disalahkan oleh suaminya sendiri. Dia pergi keluar kamar dan duduk sejenak di teras rumah.
Affan yang baru saja pulang dari padang, mendapati ibunya tengah duduk di depan rumah. Walau sering terlihat acuh, affan sebenarnya begitu peduli dengan ibunya.
”Ibuk kenapa belum tidur udah tengah malam buk?”
”Nggak ada, mau santai-santai sebentar. Capek dari tadi di dapur.”
”Ranah jadi pulang?”
”Mendadak dia ada urusan ke kampus. Jadi di antar travel jam 11 tadi.”
”Ibuk mau nanya sesuatu sama kamu, fan.”
”Apa buk?”
”Sebenarnya ranah hari ini ada sedikit masalah di rumah.”
”Masalah apa buk?”
”Om danu nggak sengaja meluk ranah.”
”Affan spontan berdiri dari duduknya. Tangannya mengepal.”
”Maksudnya apa buk? Ranah di apain om danu.”
”Tenang dulu fan, om danu nggak sengaja.”
”Menurut ibuk itu nggak sengaja? Coba ibuk fikir dari sisi ranah buk.”
”Kalian makin besar kok malah makin ngelawan sih.”
”Affan emang nggak terlalu perhatian sama ranah. Tapi dia itu adik affan buk anak perempuan ibuk. Kali ini affan setuju sama tindakan ranah. Dia berhak sama harga dirinya. Nama baik keluarga nggak sebanding sama trauma yang akan dialami ranah. Menurut ibuk memang cuma pelukan, tapi kalau sampai lebih dari itu ibuk akan tetap bersikap sama?”
Affan berjalan menuju kamarnya dengan amarah yang tak kunjung hilang. Ingin rasanya dia menuju kamar om dan tantenya itu dan menariknya keluar dari kamar.
Ratih tak tahu harus bertindak bagaimana, kepalanya penuh dan enggan untuk beristirahat.