Rumah 9 Jendela

Nurul faizah
Chapter #1

Prolog

Tidak ada yang aneh dari rumah itu pada siang hari. Bangunannya tinggi, terlihat sedikit sempit, padahal lumayan luas jika dilihat langsung dari dalam, dan menjulang seperti deretan kotak yang ditumpuk ke atas. Untuk orang awam, bangunan ini terlihat sangat aneh. Namun, bagi para tetangga di sekitar rumah itu, bangunannya biasa saja. Rumah itu terdiri dari 9 lantai dengan 1 jendela di masing-masing. 9 lantai tampak biasa saja, dicat cokelat pekat yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Terlihat juga beberapa vas bunga yang terguling di pinggiran jalan setapak menuju lantai 1, seolah-olah tidak ada tukang kebun yang ikut andil dalam mengurus rumah tersebut.

Rumah 9 jendela itu terletak tidak jauh dari kota besar. Namun, menariknya, rumah ini dekat dengan beberapa fasilitas umum seperti rumah sakit swasta, universitas, sekolah umum dari jenjang SMP hingga SMA, gedung perkantoran, taman rekreasi yang tidak terlalu ramai, sungai kecil dengan jembatan penghubung, minimarket, bahkan tempat pemakaman umum. Hanya saja, untuk sampai ke rumah ini harus melewati jalan kecil.

Di setiap lantai, hanya ada satu jendela menghadap jalan kecil yang jarang dilalui orang. Lantai itu memiliki penghuni yang jarang sekali pulang. Karena adanya satu jendela yang menghadap jalan kecil itu, orang-orang beranggapan rumah dengan 9 jendela itu kosong. Beberapa dari mereka juga berpikir bahwa itu adalah gudang tua atau paling memungkinkan adalah asrama yang bangkrut.

Tidak ada papan kos. Tidak ada nomor rumah yang jelas. Tidak ada suara televisi atau tawa penghuni. Namun, ketika matahari mulai terbenam, rumah itu hidup. Satu per satu, lampu di balik jendela menyala. Bukan bersamaan. Bukan juga acak. Selalu berurutan dari bawah ke atas. Awalnya, lantai pertama menyala lebih dulu. Lalu lantai kedua. Lantai ketiga dan berlangsung hingga lantai sembilan. Seperti seseorang yang sedang menghitung.

Jika kalian berdiri cukup lama di seberang jalan, kalian akan melihat sampai lantai 9 dengan 9 jendela menyala sempurna. Cahaya kuningnya redup, hangat, tapi entah kenapa terasa dingin di mata. Orang-orang sekitar tidak pernah menatapnya lama. Mereka menunduk. Rasanya aneh, seperti ada yang memperhatikan dari setiap jendela. Tentunya mereka memutuskan untuk mempercepat langkah. Berpura-pura tidak melihat, karena mereka tahu rumah itu sudah lama tidak menerima penghuni baru.

Dan mereka juga tahu, setiap kali ada satu jendela yang tiba-tiba terbuka lebar padahal sebelumnya hanya ada lampu yang menyala di saat kegelapan mulai menyelimuti kota kecil ini, berarti ada seseorang di kota ini baru saja memutuskan untuk pergi. Malam itu, lantai 3 tiba-tiba menampakkan jendela yang terbuka lebar dengan cahaya yang menyebar ke luar ruangan. Lantai itu kosong satu. Seolah sedang menunggu.

Lihat selengkapnya