Rubella Edward, atau biasa dipanggil Ella, berdiam diri agak lama ketika melihat sebuah notifikasi masuk ke dalam aplikasi WhatsApp miliknya. Perempuan itu baru saja tiba di kos-kosan yang ia tempati hampir 3 tahun lamanya ini. Dahinya mengernyit dan terlihat sedikit gusar. Namun, memutuskan untuk tidak membuka notifikasi tersebut. Ia bergegas beranjak dari posisinya saat ini dan mulai membuka layar laptop miliknya.
Sekali lagi. Sebuah notifikasi muncul. Dengan malas, ia terpaksa membuka aplikasi tersebut dan mulai menghela napas seakan-akan tidak berdaya. Notifikasi itu berasal dari pemilik kos-kosannya saat ini yang memberi kabar kalau harga sewa mulai hari ini meningkat drastis dengan alasan banyak biaya yang harus dikeluarkan. Ella tidak membalas, tetapi ia menekan salah satu kontak yang ada di hpnya. Dan nada pun berdering nyaring.
“Tumben banget nelpon. Biasanya lebih milih buat chat.”
Ella tertawa kecil, “Gue lagi urgent banget. Kira-kira lo ada rekomendasi kos-kosan murah dekat kampus kita ngga ya?”
“Loh, kenapa? Lo diusir atau gimana deh? Bukannya lo udah 3 tahun di sana. Harusnya aman-aman aja, kan?”
“Ngga diusir juga sih, Kal. Cuman tadi ada notif kalo uang sewa naik mulai hari ini. Naiknya lumayan banget sih. Katanya sih buat biaya renovasi segala macem. Lo tau sendiri mahasiswa kayak kita pasti lebih milih buat tinggal di kos yang murah.”
“Iya juga sih—Tapi, gue ngga ada rekomendasi kos-kosan. Cuman kalo lo mau, kita hunting aja cari kos-kosan hari ini. Dimulai dari grup Facebook sampe ya paling ngga keliling kota ini. Gimana?”
Ella menghela napas lega. Paling tidak, ada Kalia yang setia di sisinya di saat ia sedang membutuhkan bala bantuan. Walau mereka tidak tinggal di kos-kosan yang sama, baik Kalia maupun Ella selalu mampir untuk bersenda gurau setelah jam perkuliahan selesai. Ditambah, mereka berada dalam payung jurusan yang sama dan kelas yang sama juga.
-
Suasana di Café Rimbun tidak terlalu ramai hari ini. Hanya saja, tetap terdengar obrolan beberapa pengunjung yang tidak lain adalah mahasiswa dari sudut ke sudut. Café ini adalah tempat ternyaman untuk para mahasiswa ketika sedang stres, galau, jatuh cinta, atau pun ingin sekadar mengerjakan tugas. Dinamakan Rimbun karena kafe ini penuh dengan pepohonan segar, namun tetap dipoles dengan beberapa ruangan yang diletakkan pendingin ruangan satu per satu. Ella dan Kalia masih tetap setia berada di posisi mereka masing-masing. Tetapi mereka fokus mencari kos-kosan yang sekiranya cocok untuk disurvei siang hari ini.
“Lo udah ngabarin mama?” tanya Kalia tiba-tiba.
“Rencananya pas pindahan aja sih,” jawab Ella. “Mama juga kayaknya sibuk sama salonnya. Lagi pula, dia ngga akan peduli kali gue mau tinggal dimana.”
“Ngga apa-apa, lo masih punya gue—Eh, kayaknya gue ketemu satu deh yang nawarin kamar kos.”
Dengan cepat ,Ella mendekatkan tubuhnya di samping Kalia. Rasa penasaran perempuan itu langsung meningkat pesat saat melihat foto bangunan tinggi tempat kamar kos tersebut ditawarkan. Buru-buru Kalia membuka postingan tersebut dan mulai menyurvei satu per satu.
“Kalo dari fotonya sih keliatan kamarnya lebih luas ya daripada kamar lo yang sekarang. Udah termasuk kamar mandi di dalam dan juga dapur mini. Cuman minusnya bangunan kos ini kayaknya lusuh aja,” Kalia menjelaskan dengan perlahan agar sahabatnya itu mengerti.
“Tapi dengan fasilitas segitu kok harganya murah banget, ya?” tanya Ella kebingungan. “Ini lokasinya juga ngga jauh dari kampus kita kan, ya?”
“Mungkin karena bangunannya yang lusuh tadi? Makanya dipatokin harga murah. Kalo dilihat dari maps, akses jalannya kecil sih, tapi mobil pemberian papa lo masih muat buat ngelewatin,” tambah Kalia. “Mau cek sekarang?”
“Boleh deh. Tapi, ngga ada nomor telepon mereka di postingan ini. Cuman dikasih maps aja.”
“Mungkin lupa diketik. Soalnya kita aja sering banget kayak gitu,” ujar Kalia.