Rumah 9 Jendela

Nurul faizah
Chapter #3

Bab 2 - Jendela Pertama

Ella terlihat grasak-grusuk memindahkan satu per satu barang miliknya ke dalam kamar kosnya yang baru. Semua ia lakukan sendiri dikarenakan Kalia sedang ada bimbingan dengan dosen pembimbing terkait skripsi yang ia kerjakan. Lantai tempat Ella tempati penuh dengan kardus-kardus yang berisikan barang miliknya. Sesekali ia berhenti sejenak sembari menikmati segelas matcha yang ia dapatkan dari salah satu kafe kesukaannya. Alunan musik jazz kesukaannya mengalun indah sehingga terdengar seantero ruangan tempat ia berada. Ella tidak tahu apakah akan terdengar hingga lantai bawah dan atas atau hanya di lantainya saja.

Ella menoleh ke arah jam dinding yang terletak tepat di samping dapur mini. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Yang mana seharusnya Kalia akan tiba di kamar kosnya sekitar 15 menit lagi. Kalau dipikir-pikir, jarak antara kampus dan rumah 9 jendela ini tidak terlalu jauh. Jika menggunakan mobil, mungkin akan memakan waktu sekitar 15-20 menit. Jika menggunakan motor, hanya sekitar 10 menit.

“Nak Ella?”

Buru-buru, Ella mengalihkan pandangannya. Ada Bu Kanaya sedang berdiri di ambang pintu kamarnya sembari membawa sebuah piring. Sepertinya berisikan makanan atau mungkin kue.

“Hai, Bu. Maaf, kamar Ella masih berantakan banget,” dengan cepat Ella menghampiri Bu Kanaya.

“Ngga apa-apa. Ella kan masih pindahan juga—Oh iya, tadi Ibu bikin kue muffin. Barangkali Ella suka, jadi Ibu bawain ke sini.”

Ella tersenyum sumringah. Muffin adalah salah satu kue kesukaannya sejak ia pindah ke kota ini. Bahkan Kalia selalu membawakan untuknya seminggu sekali sehingga mana mungkin perempuan itu akan berpaling ke kue yang lain.

“Ya ampun, Bu!” Ella teriak gembira. “Muffin tuh salah satu kue kesukaan Ella, pasti bakalan Ella habisin,” ujarnya sembari menerima piring yang berisikan kue muffin.

Bu Kanaya tertawa kecil. Ketika melihat Ella, ia seperti melihat sosok anak perempuannya yang saat ini kuliah di Australia. Sangat menggemaskan ketika menerima sesuatu dari orang lain.

“Ibu boleh temenin Ella?” tanya Bu Kanaya tiba-tiba.

“Boleh banget, bu. Kebetulan sahabat Ella masih di jalan mau ke sini. Ibu duduk aja, jangan bantuin takut nanti Ibu kecapean,” sebut Ella sambil menikmati muffin pemberian pemilik kosnya itu.

“Ibu kan masih muda, capek dikit ngga apa-apa dong,” ujarnya, tertawa.

“Ibu bisa aja deh—Btw, Ibu sendirian aja di sini? Maksudnya Ella ngga ngelihat suami Ibu.”

“Suami Ibu belum pulang. Nanti dia pulang kalo udah waktunya.”

Ella mengangguk pelan. Walaupun sebetulnya ia sedikit penasaran, namun rasanya tidak pantas jika harus mengulik kehidupan pribadi orang lain. Terlebih pemilik rumah kos tempat tinggal ia sekarang. Ella melirik ke arah ponsel miliknya, ada notifikasi dari Kalia yang mengatakan kalau ia belum bisa membantu Ella dikarenakan adanya banyak revisi yang harus segera ia selesaikan malam itu juga. Ella sama sekali tidak marah atau merajuk, justru ia mengirimkan pesan semangat dan stiker peluk agar sahabatnya itu tidak merasa sendirian.

“Ella sering pulang ke rumah orang tua?” tanya Bu Kanaya.

“Ella jarang pulang, Bu. Soalnya Mama Ella sibuk di salonnya. Sedangkan Papa Ella di luar negeri. Mereka udah pisah.”

Bu Kanaya tidak lagi melanjutkan pembahasan itu. Ia memilih untuk mengelus pelan pundak Ella yang saat ini fokus menata barang. Ella tersenyum getir. Sudah hampir 3 tahun lamanya ia tidak merasakan elusan dari sang mama. Ketika Bu Kanaya melakukan itu, ada rasa nyaman yang mulai ia dapatkan. Menurutnya, Bu Kanaya adalah sosok yang baik. Ia bisa melihat dari awal ketika mereka bertemu.

“Ella. Pasti berat rasanya ketika harus ngelihat perpisahan yang terjadi dalam keluarga kamu. Tapi, nak. Ngga ada yang bener-bener punya keluarga yang sempurna. Mengingat kita semua cuman manusia biasa,” ucap Bu Kanaya.

Lihat selengkapnya