Mrs. Nancy
Maaf, saya sedang di luar kota. Kirimkan saja filenya. Nanti kita lanjut bimbingan minggu depan. Thanks.
Ella mengerucutkan bibirnya setelah membaca balasan dari pesan yang ia kirim kemaren. Seharusnya pagi ini ia berangkat ke kampus untuk melaksanakan kegiatan bimbingan skripsi seperti biasa. Tapi, dikarenakan dosen pembimbing satunya sedang berada di luar kota, mau tidak mau ia harus menetap di kamar kos. Ella tidak mengeluh, ia hanya berpindah posisi duduk di sebuah kursi miliknya yang mengarah ke luar jendela.
Pandangan matanya mengelilingi. Melihat cuaca yang cerah. Burung-burung yang berterbangan. Angin sepoi-sepoi. Bahkan ia juga melihat aktivitas yang dilakukan oleh tetangga yang ada di sekitar rumahnya. Ella beruntung, karena kamar kosnya berada di lantai 3. Dalam artian kata, ia bisa melihat pemandangan dengan leluasa tanpa harus merasa terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Karena mulai merasa jenuh, Ella memutuskan untuk turun ke lantai satu. Dari awal ia pindah, ia belum berkeliling secara sempurna alias hanya fokus pada lantai satu dan lantai tempat ia tempati. Perempuan itu menoleh ke arah jam dinding. Masih pukul 7 pagi. Udara masih segar. Apalagi rumah ini dikelilingi dengan pepohonan yang rindang dan bunga-bunga kecil yang tumbuh bermekaran.
Pintu lift terbuka. Ella segera melangkah masuk lalu menekan tombol lantai satu. Selang berapa detik, pintu lift kembali terbuka. Ella bertukar pandangan dengan sosok laki-laki yang berdiri bersebrangan dengannya saat ini. Laki-laki itu berjalan masuk ke dalam lift. Menyejajarkan posisinya dengan Ella. Ia menggunakan jaket gojek, tak lupa dengan tas selempang kecil di pundaknya. Sesekali Ella menoleh, melihat mata laki-laki itu yang merah seakan-akan tidak tidur berhari-hari.
“Baru ya di sini?” tanya laki-laki itu.
Ella menoleh. “Iya, baru 4 hari,” jawabnya pelan.
“Nabiel,” seolah-olah takut dilupakan, ia mengulurkan tangan kanannya. Ingin berkenalan.
Seketika Ella merasa pergerakan lift menjadi sangat lambat. Sejujurnya, ia tidak terlalu suka berkenalan dengan orang lain. Mengingat ia sudah pindah ke tempat tinggal yang baru, mau tidak mau ia harus berinteraksi. Terlebih di sini hanya ia dan 8 penghuni termasuk Bu Kanaya.
Ella berusaha tersenyum, “Rubella. Panggil aja Ella,” ia menyambut jabat tangan Nabiel.
Pintu lift terbuka.
Ella bernafas lega.
“Mau ke kampus?” tanya Nabiel yang ikut berjalan ke luar lift.
“Ngga, mas. Ella mau keliling rumah ini aja. Soalnya dari awal pindahan cuman sibuk di kamar,” jelasnya. “Mas Nabiel mau berangkat kerja?”
“Oh, bagus sih kalo mau keliling. Apalagi kamu penghuni baru. Biar lebih kenal juga dengan lingkungan sekitar,” ujar Nabiel. “Iya nih. Mau narik dekat-dekat sini aja.”
“Biasanya sampe jam berapa, mas?” Ella tiba-tiba terdiam setelah melemparkan pertanyaan. Tumben sekali ia banyak bertanya.
Nabiel tersenyum tipis, “Biasanya sih sampe jam 2 malam. Kadang juga sampe subuh.”
Dan Ella menemukan jawaban mengapa mata Nabiel terlihat merah. Mereka berdua berjalan keluar dari rumah. Ella menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tidak menemukan parkiran motor. Hanya ada parkiran mobil yang diisi oleh mobilnya. Ella ingin bertanya, namun segan.