Rumah 9 Jendela

Nurul faizah
Chapter #5

Bab 4 - Jendela Ketiga

Sebagai seorang perempuan dengan kepribadian yang introvert, perjalanan terpanjang yang pernah Ella lewati adalah ke Belanda. Tempat tinggal sang Papa saat ini. Itu pun ia memilih untuk menetap di kafe beberapa saat sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah pria itu. Kalau di Indonesia, perjalanan panjang yang ia lewati hanyalah kos dan kampus. Dengan jarak sedekat itu, bisa dikatakan itu adalah perjalanan terpanjang menurutnya. Karena untuk ke minimarket pun jaraknya lebih singkat dari kos. Atau ke laundry.

Ella menadahkan kepalanya, melihat langit yang mendung. Ia masih berada di kampus bersama Kalia. Dan waktu semakin berlalu. Tadinya, ia memutuskan untuk menetap di kampus hingga siang hari. Namun sekarang malah semakin sore, bahkan sebentar lagi langit akan berganti warna.

“Udah aman semua kan revisiannya?” tanya Kalia.

Ella mengangguk. “Tenang aja. Jadwal bimbingan gue juga masih beberapa hari lagi.”

“Gue heran deh sama dospem lo. Kok bisa ya waktunya luas banget buat cek skripsi lo bahkan langsung ngasih revisi.”

Ella tertawa. Tapi yang dikeluhkan oleh Kalia itu benar adanya. Dosen pembimbing skripsi Ella adalah manusia yang paling banyak waktunya untuk sekadar mengecek skripsi yang dikirim oleh mahasiswa bimbingannya. Bukan hanya itu, ia juga termasuk dosen yang perfeksionis. Hanya saja, kekurangannya adalah ia selalu berada di luar kota dan luar negeri, sehingga mau tidak mau mereka bimbingan secara daring.

Beruntungnya, Mrs. Nancy selalu memberikan acc ketika ia telah menyelesaikan bimbingan yang ke-3 kali. Biasanya para dosen pembimbing lainnya yang berada di kampus mereka lebih memilih untuk acc ketika bimbingan ke-5 atau ke-8 kali. Tidak usah jauh memandang, seorang Kalia merasakan itu. Ia sudah memasuki bimbingan ke-6, namun belum ada hilalnya untuk melanjutkan ke jenjang seminar proposal. Sedangkan Ella sudah memasuki bimbingan ke-2 kali, yang mana untuk ke-3 kalinya nanti akan di-acc oleh Mrs. Nancy.

“Lo ada rencana mau ke mana ngga?”

“Apanya?” tanya Ella bingung.

“Nanti pas weekend. Sekarang kan udah hari Kamis. Besok Jumat—masa lo di kos mulu,” ujar Kalia.

“Emangnya kenapa kalo gue di kos mulu? Gue masih pengen beradaptasi.”

“Eh. Ngomong-ngomong soal kos nih, lo udah ketemu semua sama penghuni kos lo?”

Ella menggedikkan kedua bahunya. “Baru satu orang sih.”

“Buset. Dari 8 orang. Eh Bu Kanaya ngga termasuk, deng. Berarti dari 7 orang, baru satu yang kenalan sama lo?”

“Iya. Secara kan mereka itu kayaknya pada sibuk deh. Gue juga kalo keluar dari kamar ngga ketemu sama mereka semua. Bener-bener kayak masing-masing aja,” jelas Ella. “Beda sama kosan lama gue. Karena mungkin di kosan lama gue kan rata-rata emang mahasiswi, jadi waktu gue mau ngampus ya mereka ngampus juga.”

Kalia mengangguk setuju. Memang terlihat banyak perbedaan yang mencolok ketika seseorang yang awalnya tinggal di lingkungan mahasiswa tetapi akhirnya pindah ke lingkungan campuran seperti Ella saat ini. Namun, poin plusnya adalah di lingkungan yang sekarang, para penghuni memang sangat sibuk masing-masing. Kalau pun nantinya Ella membutuhkan saran atau pun tempat bercerita dengan seseorang yang lebih tua, Ella bisa memilih satu dari sekian banyak penghuni di rumah 9 jendela itu.

“Udah malem nih. Ya kali kita jadi penunggu kampus sampe subuh,” ujar Ella seraya memperbaiki posisi tas ransel miliknya.

“Kalo lo mau, gue ikut aja,” ucap Kalia sembari tertawa.

“Ngawur.”

-

Mobil hitam yang dikendarai Ella melaju pelan di bawah langit malam yang pekat. Lampu depannya membelah gelap, menyapu jalanan sepi dengan cahaya kekuningan yang tajam. Udara malam terasa lebih dingin, dan embun tipis mulai turun, membuat aspal berkilau samar seperti diselimuti kaca. Saat mobil itu berbelok memasuki perkarangan rumah 9 jendela, suasananya terasa lebih sunyi. Hampir seperti ditelan waktu. sembilan jendela tinggi di deretan rumah itu tampak gelap, kecuali satu di lantai satu yang memancarkan cahaya redup, seperti mata yang setengah terjaga.

Angin sepoi-sepoi menemani Ella dalam keadaan memarkirkan mobil hitam tersebut. Pintu mobil terbuka pelan. Udara malam langsung menyergap kulitnya. Terasa sangat dingin, tipis, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan. Sepatu yang ia pakai menyentuh kerikil, menimbulkan bunyi kecil yang terasa terlalu nyaring dalam keheningan itu. Ella berdiri sejenak di samping mobil, menatap bangunan tinggi di hadapannya.

Lihat selengkapnya