Rumah 9 Jendela

Nurul faizah
Chapter #6

Bab 5 - Jendela Keempat

Ella menggerakkan matanya beberapa kali. Kepalanya terasa berat, lehernya kaku seperti habis menopang beban terlalu lama. Ia berkedip, sekali, dua kali, sebelum akhirnya fokusnya kembali utuh. Perempuan itu menoleh perlahan ke arah jam dinding. Jarum panjang tepat di angka dua belas. Jarum pendek juga di sana.

Pukul 12 malam.

Ella tersentak kecil. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Seharusnya ia sudah berada di atas ranjang; di balik selimut, mencoba memejamkan mata dan melupakan percakapan telepon yang masih menggantung di pikirannya. Tapi rupanya ia tertidur di kursi kerja miliknya. Tubuhnya masih setengah membungkuk di depan meja. Lampu belajar menyala terang.

“Ya Tuhan. Bisa-bisanya malah ketiduran di sini,” dumelnya pelan.

“Duh, mana sembab banget lagi wajah gue.”

Ella menatap nanar ke arah cermin yang ada di seberangnya, lalu melirik ke arah ponsel yang tergeletak sempurna di atas meja. Layar ponselnya gelap. Ia lupa untuk mengisi daya. Ruangan kamarnya terasa berbeda. Lebih sunyi dari biasanya. Bahkan suara angin yang tadi berdesir lewat jendela kini tak terdengar lagi. Gorden masih tersibak, dan cahaya bulan tetap jatuh ke lantai, membentuk bayangan panjang yang kini tepat menyentuh kaki kursinya. Ella mengusap wajahnya pelan, mencoba menyadarkan diri sepenuhnya. Ada sensasi aneh—seperti ia tidak benar-benar tidur, melainkan hanya terjebak dalam jeda waktu yang terlalu lama.

Hiks.

Ella tersentak. Ada sesuatu yang mengusik benaknya. Suara tangisan yang entah dari mana asalnya. Dengan buru-buru, perempuan itu beranjak dari kursi dan berjalan ke arah jendela yang masih terbuka. Matanya mengintai seperti seekor elang yang mencari mangsa, namun ia tidak menemukan sumber tangisan tersebut. Ella memutuskan untuk menutup jendela sebelum ia kembali mendengar tangisan tersebut.

Hiks. Hiks.

“Apa dari luar, ya?” tanyanya sendiri. “Tapi, dari mana, ya.”

Seharusnya, Ella kembali tidur karena besok ia harus bertemu dengan salah satu klien-nya. Namun, rasa penasarannya selalu mengalahkan segalanya. Ia berjalan keluar dari kamar. Rumah 9 jendela masih menyala dari lantai satu hingga sembilan, seakan menolak untuk kembali gelap. Ella berdiri lama di lorong lantai kamarnya, mencoba memahami ritme bangunan itu—lampu yang menyala sendiri, angin yang terasa seperti napas panjang.

Tangisan itu masih terdengar. Bahkan kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Bukan sekadar isakan tertahan seperti biasanya; melainkan suara yang retak, pecah, seperti seseorang yang sudah terlalu lama memendam sesuatu hingga akhirnya tak mampu lagi menahannya. Setiap helaan napas di sela tangis itu terdengar menyakitkan, seolah udara pun terasa berat untuk dihirup.

Kakinya mulai melangkah menyusuri tangga, naik perlahan dari lantai 3. Setiap langkah menggema pelan. Udara di dalam rumah terasa berbeda di tiap lantai. Baru 3 kali melangkah, Ella dapat melihat siluet seseorang sedang menunduk dengan badan yang bergetar. Rambutnya pendek sebahu, menggunakan pakaian yang biasa Ella lihat jika berada di lingkungan rumah sakit sekitar sini. Bukan pasien. Melainkan perawat. Karena warna pakaiannya berwarna tosca muda.

Ella melangkah lagi. Ia mendekatkan diri dengan perempuan yang masih saja menundukkan kepalanya. Kalau saja saat itu ia sedang bersama Kalia, mungkin ia akan ditegur habis-habisan. Mengingat saat ini pukul 12 malam. Bisa saja itu bukanlah manusia, melainkan sesuatu yang tak kasat mata. Tetapi Ella adalah Ella. Ia termasuk perempuan yang tidak begitu percaya pada hal-hal seperti itu karena ia belum pernah mengalami secara langsung.

“Halo?”

Ella berdiri tepat di hadapan perempuan itu.

Perempuan berambut pendek yang tidak Ella ketahui namanya langsung mendongakkan pandangannya. Terlihat dengan jelas wajahnya sembab bahkan kedua matanya menyipit akibat tangis yang terlalu lama. Dengan buru-buru, ia menyerka sisa air mata di kedua pipinya.

“Ya ampun, maaf. Tangisanku gangguin tidur kamu, ya?” ucapnya pelan.

“Eh. Ngga sama sekali,” ucap Ella buru-buru. Ia mulai panik. “Maksudku, kamu ngga apa-apa? Karena aku dengar kamu nangis dari lantai 3 tadi.”

Perempuan itu menggaruk pelan kepalanya. “Hehehe, sekali lagi maaf, ya. Aku biasanya memang suka nangis di jam segini.”

“Kenapa?” tanya Ella. Ia akhirnya memilih untuk duduk tepat di sebelah perempuan itu. Tiba-tiba Ella tersadar akan satu hal. Sejak kapan ia suka bertanya-tanya kepada lawan bicara?

“Capek aja,” jawabnya. “Aku kuliah keperawatan. Sekarang lagi magang di rumah sakit. Ternyata berat banget rasanya ngejalanin kegiatan kayak gini setiap hari—orang tuaku cerai, makanya aku tinggal di sini.”

Ella masih diam. Ia tahu kalau akan ada lanjutan dari obrolan ini.

“Dan juga, selain kuliah sekaligus magang, aku juga kerja sambilan di minimarket depan gang sana—eh! Maaf banget! Aku malah oversharing.”

Ella tersenyum tipis. “Ngga apa-apa. Paling ngga aku tau alasan kenapa kamu nangis di anak tangga ini.”

“Oh iya. Namaku Mira,” perempuan bernama Mira itu mengulurkan tangannya. “Kamu penghuni baru, kan?”

Lihat selengkapnya