Aku menjejakkan kaki di Purwokerto dengan tubuh yang pegal akibat perjalanan panjang dari kota tempat aku bekerja. Gang-gang membelit seperti ular tua, dinding-dinding rumahnya kusam dan retak, aroma lembab menempel di udara yang berat, seolah menegaskan bahwa aku baru saja memasuki waktu yang terhenti. Langkah kakiku bergema di antara rumah-rumah tua yang berderit; setiap suara seakan menertawakan keangkuhanku yang baru saja tiba.
Cahaya sore merayap melalui jendela berdebu, menembus ruang yang seharusnya hangat dengan sinar matahari, tapi kini hanya memantulkan bayangan yang memanjang dan menyeramkan. Aku menelan napas, merasakan nostalgia pahit menekuk tulang rusukku. Aroma rumah lama itu; campuran kayu tua, debu, dan malam-malam yang gelap ketika aku dan Bram masih anak-anak—membuat dadaku sesak.
Aku hampir tersenyum, tapi ingatan akan malam-malam kelam itu meremukkan rasa itu menjadi dendam yang dingin. Rumah ini, dengan setiap retak di dinding dan setiap derit lantai kayu, menyimpan memori yang ingin aku lupakan. Namun, di saat yang sama, memori itu tak bisa lepas. Bram menunggu di dalam, dan aku tahu, begitu aku melangkah melewati ambang pintu ini, semua hal yang kubenci dan kubawa selama bertahun-tahun akan menatapku kembali.
Aku berhenti di ambang halaman, menatap sosok yang berdiri di sana. Bram. Sudah dewasa, lebih tinggi dari ingatanku, tapi senyumnya sama; sedikit menyeringai, sedikit bercanda. Matanya menyiratkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata: nostalgia, rasa bersalah, tapi juga tekanan yang terselubung, seperti ia tahu setiap langkahku membawa dendam lama yang menunggu untuk meledak.
“Lama sekali,” kata Bram, suaranya ringan, hampir bercanda. “Kupikir kau bakal datang minggu depan, bukan sekarang.”
Aku mengernyit, menahan napas. Setiap kata yang keluar darinya seperti pisau tipis, menusuk pelan tapi pasti. Aku membalas dengan dingin:
“Waktu bukan sesuatu yang bisa aku main-mainkan. Tidak seperti beberapa orang.”
Bram tersenyum lebih lebar, tapi ada kilatan pahit di matanya. “Beberapa orang?” Ia menyebut namaku dengan nada seolah menantang.
Aku merasakan ketegangan langsung menjalar dari ujung kaki sampai ke tengkuk. Rasa sakit masa lalu, dendam yang terpendam, dan ketidakpercayaan muncul sekaligus. Aku mengamati Bram, mencari celah, mempersiapkan setiap kata balasan dengan dingin dan presisi.
“Rumah ini masih berdiri. Hebat ya, mengingat siapa yang merawatnya dulu,” aku menambahkan, suara rendah tapi menusuk. Seperti selimut tipis untuk menutupi rasa sakit yang tidak bisa kuungkapkan.
Bram tertawa pelan, tetapi aku menangkap nada getir di balik tawa itu. “Kalau kau begitu menyayangi rumah ini, kenapa lama sekali baru datang?”
Aku menatapnya, menahan amarah yang mendidih, dan hanya mengangkat alis. Kata-kata itu tidak butuh jawaban panjang. Kami berdua tahu, bahwa kedatangan ini bukan sekadar soal rumah. Ini tentang masa lalu, dendam, dan warisan yang membawa kami kembali ke titik nol.
Di bawah langit Purwokerto yang mendung dan gang sempit yang sepi, ketegangan itu menggantung di udara. Tidak ada yang bergerak, kecuali detak jantung kami yang bergema di telinga masing-masing. Rumah tua ini menunggu kami, Bram dan aku, untuk mulai pertarungan yang sudah lama tertunda.