Aku berdiri di ruang tamu rumah tua itu, sementara Bram masih berada beberapa langkah dariku. Tidak ada yang bergerak untuk beberapa detik. Hanya suara jam dinding yang berdetak lambat, seolah rumah ini sengaja memperlambat waktu agar kami saling menatap lebih lama.
Aku memperhatikannya dengan saksama.
Bram sudah jauh berbeda dari bocah yang kuingat. Tubuhnya lebih tinggi sekarang, bahunya lebih lebar. Rambutnya sedikit lebih panjang dari yang seharusnya, seolah ia tidak terlalu peduli dengan penampilan. Wajahnya terlihat lebih keras, garis rahangnya tegas, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan; kelelahan yang menempel seperti bayangan tipis di bawah matanya.
Matanya sendiri… masih sama.
Lembut, tapi berat. Seperti seseorang yang terlalu sering memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia ubah.
Aneh rasanya melihatnya lagi setelah bertahun-tahun. Seharusnya aku sudah terbiasa dengan gagasan bahwa Bram masih ada di dunia ini. Tapi kenyataannya berdiri di hadapannya seperti ini terasa salah. Seolah masa lalu yang seharusnya terkubur tiba-tiba bangkit dan duduk di ruang tamu rumah tua ini bersama kami.
Perasaanku bercampur.
Ada kemarahan yang lama tertahan. Ada ketidakpercayaan yang sulit dijelaskan. Dan ada sesuatu yang lebih menjengkelkan; nostalgia yang tidak kuinginkan sama sekali.
Aku mencoba membaca wajahnya.
Apakah ia menyesal?
Apakah semua sikap santai itu hanya akting? Senyum kecilnya, cara ia berdiri dengan tangan di saku, seolah-olah ini hanyalah pertemuan biasa antara dua saudara yang lama tidak bertemu.
Aku mengamati setiap gerak kecilnya, mencari celah.
Tapi semakin lama aku menatapnya, semakin jelas satu hal muncul di kepalaku.
Bram tampak seperti seseorang yang masih membawa rumah ini di dalam dirinya. Seolah setiap dinding, setiap lorong, setiap kenangan yang membusuk di tempat ini masih hidup di kepalanya.
Sedangkan aku sudah lama mencoba melakukan sebaliknya.
Aku menghapus rumah ini dari hidupku.
Bram akhirnya yang lebih dulu memecah keheningan.
Ia menggeser berat tubuhnya sedikit, lalu bersandar santai pada sandaran kursi tua di dekat jendela. Kayunya berderit pelan, seolah protes karena dipaksa menopang masa lalu yang terlalu berat.
“Perjalananmu jauh?” tanyanya.
Nada suaranya ringan. Terlalu ringan untuk ruangan yang penuh kenangan seperti ini.
Aku mengangkat bahu sedikit. “Lumayan.”
Jawabanku pendek. Tidak ada yang perlu ditambahkan.
Bram mengangguk pelan, seperti mencoba menerima ritme percakapan yang timpang itu.
“Masih kerja di tempat yang sama?” lanjutnya.
Aku menatapnya sekilas. Ia bertanya seolah kami baru saja bertemu setelah liburan panjang, bukan setelah bertahun-tahun hidup terpisah seperti dua orang asing.
“Ya.”
Hanya satu kata.
Bram mengusap tengkuknya. “Kota itu masih seramai yang dulu kau ceritakan?”
Aku hampir tertawa kecil, tapi bukan karena lucu. Lebih karena absurditasnya.
“Masih,” jawabku.
Hening kembali turun di antara kami.
Bram tampaknya tidak menyerah. Ia berjalan beberapa langkah mengitari ruang tamu, menyentuh permukaan meja kayu dengan ujung jarinya, seperti seseorang yang sedang menyapa benda-benda lama.
“Purwokerto tidak banyak berubah,” katanya. “Jalannya masih sama. Warung di ujung gang juga masih buka.”
Ia tersenyum kecil.
Aku memperhatikannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Bram berbicara seperti seseorang yang sedang pulang. Seperti seseorang yang benar-benar memiliki tempat ini.
Aku tidak merasakan itu.
“Bagus,” kataku datar.
Ia menoleh padaku lagi. “Aku kira kau bakal datang lebih cepat.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi. “Aku datang ketika perlu.”
Jawaban itu cukup untuk mematikan sisa percakapan.
Perbedaan di antara kami terasa jelas sekarang.
Bram terbuka. Ia membiarkan emosinya muncul di wajah, di nada suaranya, di cara ia berjalan di rumah ini seolah setiap sudutnya masih berarti sesuatu.
Aku sebaliknya.
Aku mengamati. Mengukur. Menjaga jarak.
Dan entah kenapa, justru itu yang mulai menggangguku.
Bukan karena Bram memusuhi aku.
Justru karena ia tidak melakukannya.
Ia terlalu… manusia.
Suara detak jam dinding tiba-tiba terdengar lebih jelas.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku menoleh tanpa sadar.
Jam tua itu masih tergantung di tempat yang sama, sedikit miring di dinding yang catnya sudah mengelupas. Jarumnya bergerak lambat, seperti selalu. Tidak pernah tergesa, tidak pernah peduli siapa yang datang atau pergi dari rumah ini.
Aneh.
Bertahun-tahun berlalu, tapi benda itu masih hidup di sini. Masih berdetak dengan ritme yang sama seperti ketika aku terakhir mendengarnya.
Angin sore menyelinap dari jendela yang tidak tertutup rapat. Bau kayu basah dan debu mengisi ruangan. Bau yang sangat akrab. Bau yang dulu tidak pernah benar-benar kusadari, sampai sekarang.
Bram berjalan melewati pintu menuju lorong, dan saat ia mendorongnya, pintu kayu itu mengeluarkan bunyi berderit panjang.
Suara itu menusuk kepalaku.
Aku pernah mendengar suara itu sebelumnya.
Persis seperti itu.
Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam kepalaku bergerak. Seperti pintu lain yang terbuka—pintu yang selama ini berusaha kututup rapat.
Detak jam masih terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Dan tiba-tiba ruang tamu ini terasa berubah.
Cahaya sore yang redup, bau kayu basah, suara pintu berderit, semuanya terasa sama seperti malam itu.
Malam ketika rumah ini tidak hanya sunyi.
Tapi hancur.
Kenangan itu datang tanpa permisi, merangkak pelan ke permukaan pikiranku.
Dan sebelum aku sempat menahannya, aku sudah kembali ke malam itu.