Rumah Adik Kakak

Andre Sore
Chapter #3

Bab 3

Ketika percakapan dengan Bram akhirnya mati dengan sendirinya, aku meninggalkan ruang tamu tanpa mengatakan apa-apa.

Lorong rumah itu masih sama sempitnya seperti yang kuingat. Dindingnya kusam, catnya mengelupas di beberapa tempat, dan udara di dalamnya terasa berat oleh campuran debu, kayu tua, dan kelembapan yang sudah terlalu lama tinggal di sini.

Aku melangkah perlahan.

Setiap langkah seperti memberi tahu rumah ini bahwa aku kembali.

Cahaya sore masuk melalui jendela-jendela buram di sepanjang lorong. Sinarnya redup, pecah oleh debu yang menggantung di udara. Bayangan furnitur lama jatuh panjang di lantai, membuat ruangan terlihat lebih sempit dari yang sebenarnya.

Aku berjalan melewati ruang makan.

Meja kayu tua masih berada di tempat yang sama. Permukaannya penuh goresan tipis. Aku tahu persis dari mana sebagian goresan itu berasal.

Bram dan aku dulu sering menggeser kursi terlalu keras. Pernah juga kami mengukir garis kecil dengan ujung pensil hanya untuk melihat siapa yang bisa membuatnya paling lurus.

Di dinding sebelah meja tergantung foto keluarga lama.

Bingkainya sudah kusam. Kacanya sedikit retak di sudut.

Aku tidak berhenti lama untuk melihatnya.

Beberapa langkah kemudian aku melewati lemari kayu besar. Salah satu pintunya sedikit miring, seperti orang tua yang terlalu lelah untuk berdiri tegak.

Tanganku hampir saja menyentuhnya, tapi aku menahan diri.

Semakin jauh aku berjalan, semakin kuat satu perasaan yang muncul di kepalaku.

Rumah ini terasa… hidup.

Bukan hidup dengan cara yang hangat.

Lebih seperti sesuatu yang mengamati.

Setiap ruangan seperti menyimpan sesuatu yang belum selesai. Setiap sudut seperti menunggu seseorang membuka kembali cerita yang sudah terlalu lama dibiarkan membusuk.

Dan yang paling menggangguku adalah satu hal yang akhirnya kusadari.

Rumah ini tidak berubah.

Seolah waktu berhenti di sini sejak malam tragedi itu.

Seolah semua orang pergi, tapi rumah ini tetap tinggal dan menunggu.

Aku berdiri di tengah lorong, menatap dinding yang kusam, dan untuk pertama kalinya sejak aku datang tadi, sebuah pikiran muncul dengan jelas di kepalaku.

Aku merasa seperti orang asing.

Di tempat yang dulu seharusnya menjadi rumahku sendiri.

Aku baru saja hendak melangkah ke dapur ketika sebuah suara muncul dari belakangku.

“Lantainya makin parah.”

Aku menoleh.

Bram sudah berdiri di sana tanpa kusadari kapan ia muncul. Ia bersandar di kusen pintu dapur dengan satu bahu menempel pada kayu yang sudah mulai retak. Tangannya dimasukkan ke saku celana, sikapnya santai seperti seseorang yang sedang menunggu bus, bukan berdiri di rumah masa kecil yang penuh luka.

Aku menatapnya sebentar, lalu kembali melihat sekeliling lorong.

“Nah, itu,” katanya sambil menunjuk ke bawah. “Semenya sudah retak naik. Kalau tidak diganti, orang bisa kesandung.”

Nada suaranya terdengar hampir… lembut. Seolah ia sedang membicarakan seseorang yang sakit, bukan sepotong papan tua.

Aku mengangkat bahu kecil.

“Rumah tua memang begitu.”

Bram berjalan dua langkah masuk ke lorong, memandang dinding, langit-langit, lalu jendela yang catnya mulai mengelupas.

“Banyak yang harus diperbaiki,” katanya. “Atapnya juga pasti bocor sekarang.”

Aku menoleh padanya lagi.

“Atau,” kataku datar, “rumah ini dijual saja.”

Bram menatapku.

“Serius?”

“Rumah ini terlalu tua,” lanjutku. “Memperbaikinya bakal mahal. Lebih masuk akal kalau dijual.”

Hening sebentar.

Bram tidak langsung membantah. Ia hanya melihat sekeliling rumah itu sekali lagi, lebih lama dari sebelumnya.

Lalu ia tersenyum kecil.

“Tidak semua hal harus diperbaiki dengan uang.”

Kalimat itu jatuh begitu saja di udara.

Aku langsung tahu aku tidak menyukainya.

Bram melihat rumah ini dan yang ia lihat adalah kenangan.

Aku melihat rumah yang sama dan yang kulihat hanyalah beban.

Aku masuk ke dapur tanpa menunggu Bram.

Ruangan itu lebih kecil dari yang kuingat. Atau mungkin dulu aku hanya terlalu kecil untuk menyadari betapa sempitnya tempat ini.

Udara di dalamnya lebih lembap daripada ruang lain di rumah. Bau logam tua dan kayu basah bercampur di udara.

Di sudut ruangan berdiri kompor besi tua, tubuhnya dipenuhi bercak karat. Pegangannya kusam, seperti sudah lama tidak disentuh siapa pun. Di atasnya masih ada panci kecil yang tutupnya miring, tertinggal seperti seseorang yang pergi terburu-buru bertahun-tahun lalu.

Di dinding samping terdapat rak piring.

Kosong.

Hanya bekas lingkaran debu yang menunjukkan di mana piring-piring dulu pernah diletakkan.

Aku berjalan mendekati jendela kecil di atas wastafel. Kacanya buram, tapi masih cukup jelas untuk melihat halaman belakang.

Halaman itu terlihat seperti tempat yang telah lama dilupakan.

Rumputnya tinggi dan liar. Tanahnya gelap karena lembap. Di tengah halaman berdiri pohon mangga tua yang cabangnya menjulur ke segala arah, seperti seseorang yang menolak mati.

Pagar kayu di ujung halaman sudah miring, beberapa bagiannya hampir roboh.

Untuk sesaat, sebuah kilasan ingatan muncul begitu saja.

Bram dan aku berlari di halaman itu.

Kaki kami penuh tanah. Kami saling mengejar sambil tertawa terlalu keras.

Lihat selengkapnya