Aku bangun lebih pagi dari yang kuharapkan.
Untuk beberapa detik aku tidak ingat di mana aku berada. Langit-langit di atasku terlihat asing, catnya kusam, ada retakan kecil di sudut yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Lalu bau kayu tua dan debu yang lembap menyusup ke hidungku.
Rumah itu.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan menghela napas pelan. Tidur di sini terasa salah, seperti mencoba beristirahat di tempat yang terlalu penuh dengan sesuatu yang belum selesai.
Setiap kali aku hampir terlelap tadi malam, suara rumah ini muncul lagi; lantai berderit, jendela bergetar sedikit karena angin, atau bunyi sesuatu yang jatuh entah dari mana.
Rumah ini membuatku merasa seperti seseorang yang sedang diawasi oleh masa lalu.
Aku berjalan ke dapur dan membuat kopi seadanya. Air panas, bubuk kopi murah yang kutemukan di lemari, cangkir tua yang tidak benar-benar bersih.
Cahaya pagi masuk melalui jendela dapur yang buram. Sinarnya pucat, terpecah oleh debu yang melayang di udara.
Rumah masih sunyi.
Dari luar hanya terdengar suara burung yang tidak terlalu jauh, dan sesekali deru kendaraan dari gang sempit di depan rumah.
Aku berdiri di dekat jendela dan melihat ke halaman belakang.
Bram sudah bangun.
Ia berada di dekat pohon mangga tua, memeriksa sesuatu di pagar kayu yang miring. Kadang ia menendang tanah dengan ujung sepatu, kadang menarik salah satu papan pagar seolah ingin melihat apakah masih bisa diperbaiki.
Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menilai rumah ini.
Bukan sebagai warisan.
Tapi sebagai sesuatu yang ingin ia selamatkan.
Aku menyeruput kopi dan menatapnya tanpa ekspresi.
Kontras di antara kami terasa jelas bahkan tanpa kata-kata.
Bram terlihat seperti orang yang ingin memperbaiki rumah ini.
Sedangkan aku hanya ingin menyelesaikan urusan ini secepat mungkin dan pergi.
Teleponku bergetar di atas meja dapur.
Suara itu terasa terlalu keras di rumah yang masih setengah tertidur.
Aku melirik layar.
Nomor yang tidak kusimpan, tapi terasa familiar.
Aku mengangkatnya.
“Halo.”
Suara di seberang terdengar rapi, datar, dan profesional.
“Selamat pagi. Saya Pradana, pengacara keluarga Anda. Maaf mengganggu pagi-pagi.”
Aku menyandarkan bahu ke meja dapur.
“Tidak masalah.”
Di luar jendela, Bram masih sibuk dengan pagar kayu. Ia menarik satu papan yang miring, lalu mencoba memasangnya kembali.
Sementara di telepon, suara pengacara itu melanjutkan dengan nada yang sama formalnya.
“Saya hanya ingin memastikan Anda dan saudara Anda sudah berada di rumah warisan di Purwokerto.”
“Kami sudah di sini.”
“Baik. Saya perlu mengingatkan bahwa keputusan mengenai properti itu sebaiknya tidak terlalu lama ditunda.”
Aku menunggu ia melanjutkan.
“Secara hukum,” katanya, “rumah itu harus segera diputuskan statusnya. Apakah akan dijual, dibagi, atau dialihkan. Ada beberapa dokumen yang perlu ditandatangani oleh Anda berdua.”
Aku menyeruput kopi pelan.
“Kalau tidak?” tanyaku.
Pengacara itu berhenti sebentar sebelum menjawab.
“Prosesnya bisa menjadi lebih rumit.”
Nada suaranya tetap tenang, tapi jelas.
“Ada kemungkinan muncul biaya tambahan—pajak tertunggak, administrasi properti, bahkan klaim dari kerabat lain yang merasa memiliki kepentingan.”
Aku melihat ke luar jendela lagi.
Bram sekarang berdiri di bawah pohon mangga tua, memandangi cabangnya seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada warisan keluarga.
Sementara di dapur ini, percakapan tentang rumah itu terdengar seperti laporan bisnis.
Aku menyukai itu.
Aku menyukai hal-hal yang jelas.
“Berapa lama kami punya waktu?” tanyaku langsung.
Pengacara itu tidak berputar-putar.
“Beberapa minggu saja.”
Jawabannya pendek.
Dan cukup untuk membuat satu hal menjadi jelas.
Masalah rumah ini tidak akan bisa dibiarkan menggantung lama.
Aku keluar ke halaman belakang setelah menutup telepon.
Udara pagi masih dingin. Rumput tinggi menyentuh ujung sepatu setiap kali aku melangkah.
Bram masih berdiri di dekat pagar kayu yang miring. Ia memegang salah satu papan yang lepas, mencoba menekannya kembali ke tempatnya seolah itu benar-benar akan bertahan.
“Ada kabar?” tanyanya tanpa menoleh.
“Pengacara.”
Ia berhenti bergerak.
Lalu menoleh.
“Dan?”
Aku berdiri beberapa langkah darinya.
“Kita harus memutuskan soal rumah ini dalam beberapa minggu.”
Bram mengerutkan dahi. “Beberapa minggu?”
Aku mengangguk.
“Kalau tidak, urusannya bisa jadi rumit. Pajak, dokumen, kerabat yang tiba-tiba merasa punya hak.”
Bram melepaskan papan pagar itu. Papan itu jatuh kembali dengan bunyi pelan.
“Cepat sekali.”
Nada suaranya tidak marah. Tapi jelas tidak menyukai berita itu.
“Kita bahkan belum benar-benar melihat rumah ini.”
“Kita sudah melihat cukup,” kataku.
Ia menatapku tidak percaya.
“Belum,” katanya. “Loteng saja baru kita buka kemarin.”
Ia menunjuk ke arah rumah.
“Ada dokumen di sana. Surat-surat. Kita bahkan belum membaca semuanya.”
Aku menggeleng kecil.